Minggu, 05 Desember 2021

Insomnia.

          


Malam cukup kental menghitam serupa dengan kopi milik rujali dan mali, malam-malam di laluinya dengan nongkrong di warung kopi Bu Tejo, asap rokok kedua sahabat itu membumbung tinggi di langit-langit warung itu, sesekali jali menyeruput kopi hitam miliknya, sambil bercanda dengan sahabatnya mali, hingga membuat warung itu seolah-olah di dalamnya ada banyak orang sedangkan di sana hanya ada rujali, mali, dan Bu Tejo.

"Setiap malam kalian ke sini untuk minum kopi tapi utang kalian juga semakin menumpuk bisa bangkrut saya lama-lama"

"Ah bu tejo tenang saja, nanti kalo saya dan mali sudah bekerja dan punya uang pasti saya akan bayar lebih ke Bu Tejo yang cantik ini, iya kan Mali"

"Benar itu Bu Tejo, pasti nanti kami akan bayar, lagian kalo bukan kami yang membuat ramai warung ini lalu siapa lagi"

"Buat apa ramai kalau orang yang nongkrong seperti kalian, ingat utang tetap lah utang harus di bayar yah"

"Siap Bu Tejo"

Malam sudah mengantuk di tandai bulan yang kian meninggi, namun rujali dan mali belum lagi mengantuk. Bu Tejo melihat jam dinding milik nya, dan waktu sudah menunjukkan pukul 11 : 25 malam.

"Hei jali, mali kalian pulanglah ini sudah larut malam, saya sudah mau tutup warung"

"Sebentar lagi bu' saya dan mali lagi asik berbincang ini"

"Tapi saya sudah mau tutup warung ini saya mau tidur, sudah ngantuk"

"Yasudah bu' kami pulang"

Kemudian rujali dan mali pun beranjak dari tempat nya duduk dengan wajah yang seolah jengkel karena di usir oleh Bu Tejo.

"Bu Tejo bayarnya besok yah"

"Sama Bu saya juga"

"Ah kalian ini tiap malam seperti itu, sudah hafal saya"

Sekali lagi warung yang sepi di tengah malam itu seketika kembali berisik oleh suara tawa rujali dan Mali.

"Ya sudah Bu saya dan mali duluan"

"iya hati-hati di jalan kalian"

Tampak dari kejauhan Bu Tejo yang tengah menutup warung kecil miliknya
semakin jauh langkah kaki rujali dan Mali meninggalkan warung Bu tejo, lalu yang tersisa hanya cahaya lampu warung Bu Tejo.

"Mali kalau nanti aku sukses dan sudah punya banyak uang aku akan membayar semua utangku ke Bu Tejo"

"Aku juga jali, Bu Tejo itu orang nya sangat baik, setiap hari kita ngutang tapi tidak pernah dia marah dan menuntut lebih ke kita"

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 : 35 malam, rujali dan mali belum lagi mengantuk, mereka berjalan di bawah rembulan dan tepat di samping nya sungai yang aliran airnya begitu tenang, kemudian mereka berdua singgah dan duduk pada sebuah batu.

"Mali kapan kau terakhir kali tidur dengan cepat"

"Dulu waktu masih sekolah yah jam tidur ku sekitar jam 8 dan sudah di katakan begadang kalo sampai jam 9, kalo kamu sendiri?"

"Yah sama aku juga seperti itu, semenjak lulus sekolah jam tidur ku sudah tidak teratur, apalagi sekarang nganggur, tidur malam susah bangun pagi juga susah, kadang aku tidurnya jam 4 subuh terus bangun nya jam 5 sore, stres aku mali mikirin kehidupan ini"

"Begitu juga aku jali, tidak bisa tidur cepat apalagi kalo sudah minum kopi Bu tejo hahaha"

Waktu terus berjalan, kopi Bu Tejo benar-benar membuat rujali dan Mali menjadi terjaga, waktu kemudian menunjukkan pukul 01 : 42 pagi rujali dan mali belum lagi beranjak dari tempat nya duduk, sekarang mereka berdua sambil tiduran di atas batu itu, melihat bulan yang terang serta suara aliran sungai seolah mengajak mereka berdua untuk hanyut di dalam nya, jangkrik seolah menjelmah bagai biola alam, membuat rujali dan Mali seperti sedang berada pada negeri dongeng, malam itu mereka berdua sayup dalam tenang nya malam.

"Mali apakah kau sudah tidur?"

"Belum jali, aku tidak bisa tidur kalau ada cahaya, tolong matikan lampunya"

"Maksud mu bulan yang di atas kita ini"

"Hahahaha iya kau bisa kan jali"

"Seperti nya kau sudah ngawur mali mana bisa aku matikan cahaya bulan, kecuali aku adalah tuhan"

"Jali apakah ibu mu tidak mencari mu?"

"Ibu ku tahu aku dimana jadi dia tidak pernah mencari ku"

"Warung Bu Tejo hahahaha"

"Iya hahahaha"

Kembali pagi yang sayup itu menjadi riuh oleh suara tawa rujali dan mali, mereka berdua benar-benar melupakan waktu, dan sekarang sudah pukul 02 : 00 pagi.

"Mali aku rindu bisa tidur tepat waktu, andai aku bisa tidur di bawah jam 9 mungkin aku akan sangat senang"

"Hahahaha bagaimana bisa jali sedangkan kita setiap malam minum kopi"

"Oh iya rokok mu sudah habis belum li?"

"Oh iya yah, aku sampai lupa tunggu sebentar"

Lalu Mali merogoh kantong celananya, ada 2 batang rokok yang tersisa di dalam kantong celana milik nya.

"Masih ada jali, sisa dua batang, ini satu untuk mu dan satu lagi untuk ku"

"Mana koreknya?"

"Ini biar aku bakarkan punyamu hahaha"

"Seperti bos saja aku ini yah"

Kemudian mereka terbangun lalu duduk sambil menghisap rokok, asap nya membumbung perlahan seolah akan menyatu dengan awan-awan yang berada di atas kepala mereka, suara kretek bara rokok rujali dan mali berteman jangkrik di pagi yang masih buta itu, sekarang pukul 03 : 00 pagi, suhu semakin dingin dan rokok mereka berdua menjadi penghangat nya.

"Rokok ini memang nikmat yah mali"

"Iya jali apalagi di tempat dan suhu yang dingin seperti ini, seolah rokok dan suasana sudah lama akrab sama seperti kita berdua"

"Hahahaha kata-kata mu sudah seperti seorang sastrawan saja mali"

"Hahahah amin"

Rokok mereka pun habis lalu mereka berdua berdiri sambil menepuk bokong dan belakang badan mereka untuk membersihkan debu yang melekat lalu suara ayam berkokok pertanda sebentar lagi pagi akan terbangun.

"Kau dengar itu mali, suara ayam berkokok sebentar lagi akan pagi dan kita masih belum mengantuk"

"Benar-benar kopi Bu Tejo memang paling mantap sampai kita lupa waktu begini"

Mereka berdua kemudian berjalan meninggalkan tempat mereka berbincang dari tadi, menyisir jalan yang remang-remang itu, sampai lah Mali di depan rumah nya, kemudian melambai kepada rujali.

"Duluan yah jali, hati-hati di jalan"

"Iya mali, sampai ketemu besok maksudnya malam hahahaha"

"gila kau jali, yasudah lah"

Kemudian hanya tersisa rujali seorang diri berjalan menapaki jalan yang mengarah ke rumahnya, rujali tiba di rumahnya pada pukul 04 : 26 pagi, di temuinya ibunya sedang mencuci piring.

"Baru pulang kau jali, begadang terus kau setiap hari"

"Iya bu, biasa nongkrong di warung Bu Tejo sama mali, oh iya Bu jali besok minta uang yah buat bayar utang jali di warung Bu tejo"

"Sudah tidak kerja, begadang terus, ngutang lagi, mau jadi apa kau ini jali"

"Tenang saja Bu nanti kalau jali sudah Sukses dan punya banyak uang pasti jali akan membahagiakan ibu dan bapak"

"Ya sudah sebentar kalau bapak mu sudah bangun ibu minta uang untuk mu"

"Makasih bu, yasudah jali mau masuk kamar, mau tidur"

Sambil geleng-geleng ibu rujali melihat jali anaknya berjalan memasuki kamarnya, dan jali kemudian menutup pintu kamar dan merebahkan badannya, sambil mengatai dirinya sendiri, "jali kau ini seperti hewan nokturnal saja yang mencari makan di malam hari dan tidur di pagi hari" kemudian rujali tertidur dengan sangat pulas, lemas usai begadang dengan mali, mali pun sama hal nya dia juga tertidur pulas, kafein pada kopi buatan Bu Tejo tidak lagi mampu membuat rujali dan Mali terjaga, mereka berdua tertidur pulas pada pagi yang sebentar lagi sempurna. Waktu menunjukkan pukul 06 : 00 pagi bapak rujali sudah bangun dan rujali mulai bermimpi dalam tidur nya.

"Pagi bu, rujali pulang jam berapa yah?"

"Biasa pak begadang lagi, pulang nya jam setengah 5 tadi subuh"

"Anak itu mau jadi apa yah Bu"

"Entah lah pak, oh iya dia tadi minta uang ke ibu tapi tidak bilang jumlah nya berapa"

"Untuk apa dia minta uang"

"Kata nya mau bayar utang kopi nya di warung Bu tejo"

"Anak itu benar-benar yah Bu"

"Yasudah lah pak, nanti juga dia akan sadar sendiri kalau sudah tiba waktu nya"

Pagi itu ibu dan bapak rujali membahas tentang rujali, tidak lupa bapak rujali memberi uang ke ibu rujali, sebelum akhir nya bapak rujali berangkat untuk bekerja.

"Ya sudah Bu bapak jalan dulu"

"Iya pak hati-hati di jalan"

Rujali ter tidur pulas di kamar nya
dan waktu sekarang menunjuk kan pukul 04 : 56 sore, rujali ter sentak oleh suara motor milik bapak nya yang pulang dari bekerja, rujali kemudian terbangun dan melihat jam dinding pada kamar nya.

"Sudah sore ternyata waktunya bangun"

Lalu rujali berjalan keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka nya, di dapati nya ibu dan bapak nya di ruang tengah.

"Baru bangun kau jali"

"Iya pak, habis begadang tadi malam, soalnya susah tidur"

"Kau itu setiap malam begadang dan merokok benar-benar hidup yang tidak sehat, apalagi kamu katanya sering mengutang di warung kopi milik Bu Tejo"

"Yah kan namanya juga anak muda pak mau bagaimana lagi, nanti juga rujali berubah"

"yah bapak cuma bisa menasehati kau jali semoga bisa benar-benar berubah"

"iya pak, rujali usahakan"

Tidak ada yang berubah pada hidup rujali setiap malam rujali keluar bersama Mali dan pulang subuh lagi dan lagi, hingga akhirnya rujali terserang penyakit akibat pola hidup nya yang tidak sehat selama ini, setelah rujali di larikan ke rumah sakit dan di rawat selama beberapa minggu, rujali akhirnya menghembuskan napas terakhirnya akibat penyakit yang di derita nya, orang tua rujali, Mali, dan Bu tejo, sangat bersedih dengan kematian rujali, sekarang rujali tidak akan begadang lagi, dan tidak akan sulit lagi untuk tidur, rujali akan tidur panjang dalam peristirahatan terakhir nya.




Minggu, 11 April 2021

Sayap Angsa


Pagi yang masih mengantuk itu terbangun oleh suara angsa-angsa pak Somad yang berbunyi bergantian seolah sedang mengabarkan kepada tuannya bahwa mereka sedang dalam bahaya, tidak lain Roni yang telah membuat kebisingan di pagi buta itu, anak yang bermimpi dapat terbang seperti burung itu tengah mencabuti bulu-bulu angsa milik pak Somad. 

Lihatlah Denis, ujang sebentar lagi kalian akan menganga seperti buaya yang sedang kelaparan lantaran melihatku dapat terbang di angkasa, bulu-bulu angsa ini akan ku rangkai menjadi sayap dan kalian tidak akan mengataiku orang gila lagi, kraaaakk....kraaaak suara angsa-angsa itu semakin berisik, hingga membangunkan pak Somad yang tengah tertidur pulas.

"Ada apa dengan angsa-angsa itu kenapa sangat berisik"

pak Somad berlari keluar dengan setengah sadar, dengan sarung yang melingkar di pinggangnya, dan senter tua di tangan kanannya, mendengar suara pak Somad yang berteriak Roni bergegas lari dari kandang angsa itu sambil memegang bulu-bulu angsa yang di dapatnya. 

Woi siapa disana, sambil mengarahkan cahaya senter miliknya, pak Somad mendekati kandang miliknya lalu masuk ke dalam, Roni tidak lagi berada di dalam sana, pak Somad mendapati angsa-angsanya dengan bulu sayap yang telah di cabuti, pak Somad benar-benar marah melihatnya.

"Untung saja aku bergegas keluar tadi kalau tidak pak Somad bisa memukuliku"

Roni memang terkenal sebagai anak yang nakal dan pemberani dia mampu melakukan hal-hal yang cukup berbahaya jika dia menginginkannya. Roni pernah membaca sebuah buku tentang manusia yang dapat terbang akhirnya dia terinspirasi dari buku itu, dan ini bukan pertama kalinya Roni melakukan percobaan seperti itu, Roni beberapa kali mencoba terbang dengan berbagai cara salah satunya dengan daun pisang yang dia lilitkan di kedua tangannya lalu melompat dari atap belakang rumahnya, hasilnya Roni terbang beberapa detik lalu akhirnya tergeletak di tanah dengan tulang kakinya yang patah, ibunya sering memarahi Roni namun Roni tidak pernah ingin berhenti untuk mewujudkan mimpinya itu.

Matahari lalu kian meninggi,

"Kalau aku tahu siapa orang itu Bu aku akan memberikannya benjolan besar di kedua kelopak matanya bagaimana tidak sayap angsa-angsa ku di cabutinya hingga tersisa sedikit"

"Sudah pak, sabar ini ujian beberapa bulan lagi mungkin sayap angsa-angsa bapak akan tumbuh kembali"

"iya Bu dan mungkin beberapa bulan lagi angsa-angsa itu akan mati karena kesakitan.

"Sudah pak ini kopinya di minum dulu takut dingin"

"Pak Somad memanas pagi itu lantaran tidak mengetahui siapa pelakunya, dan agaknya Bu Susi tidak usah risau jika kopi suaminya menjadi dingin sebab suaminya tengah memanas"

di satu sisi Roni merangkai bulu-bulu angsa yang di dapatnya hingga membentuk sebuah sayap besar

Akhirnya jadi juga sebentar lagi dunia akan melihat seorang anak kecil yang dapat terbang di angkasa, Denis dan ujang benar-benar akan takjub melihatku, mereka berdua akan menarik ucapan mereka waktu itu, Roni keluar melalui pintu belakang rumahnya, mengendap-endap nyaris tidak terdengar, jika ibunya tahu Roni akan kena marah lagi, setelah cukup jauh dari rumahnya, Roni bergegas memacu kaki-kaki kecilnya menyeruak semak-semak lalu muncul di jalan poros desa, di jalan Roni bertemu Denis dan ujang, dari jarak delapan meter tampak Denis dan ujang saling berbisik.

Lihat Jang, si Roni si anak ayam yang bermimpi terbang seperti burung hahahah

iya den, dia masih saja tidak jerah setelah beberapa kali hampir mati karena mimpi gilanya itu dan sekarang lihat dia membawa apa, dia membawa sayap yang terbuat dari bulu angsa Jang hahaha.

Kemudian Roni, Denis dan ujang berdiri saling berhadapan, lihat siapa ini Jang manusia burung dasar orang gila mana mungkin kamu bisa terbang.

Roni menyambar percakapan mereka berdua, lihat saja nanti mulut kalian berdua akan ku beli setelah aku berhasil terbang, kalian berdua akan ku ludahi dari langit, kepala kalian berdua akan basah, lalu kalian berlari sambil menangis dan bersembunyi di rumah kalian masing-masing.

Denis dan ujang berjalan meninggalkan Roni, mimpi saja kau terus roni hahahaha dasar orang gila.

sambil berteriak roni berkata kepada mereka berdua, kalian berdua bersiaplah aku akan datang, tunggu saja.

Roni berjalan menuju tower tua di pinggir desa sambil membawa sayap buatannya lalu Roni memanjat tower itu hingga ke puncak lalu memakai sayap buatannya.

Ini dia Roni setelah melompat dari sini dunia akan takjub padamu.

Roni menutup matanya, angin mengelus badan mungilnya, serta mengacak-acak rambutnya, lalu melompat ketika ia membuka matanya ia berhasil terbang, berteriak sambil mengelilingi desanya, menyapa orang-orang desa, dan tidak lupa janjinya kepada Denis dan ujang, Roni memperlihatkan bahwa dirinya berhasil terbang, Denis dan ujang benar-benar menganga seperti buaya yang sedang kelaparan, lalu Roni mengejar mereka berdua, meludahi mereka berdua, membuatnya menangis, mengusirnya hingga masuk ke dalam rumah masing-masing, Roni benar-benar gembira sebab ia berhasil terbang, hingga sebelum beberapa saat kemudian tubuhnya di temukan kaku di bawah tower tua itu, Roni tidak benar-benar terbang, setelah menutup matanya dan melompat ia akhirnya terjun bebas ke tanah, lalu seketika mati.