Jumat, 27 September 2019

Untuk Indonesia



Untuk negeriku tercinta!




Ada yang bilang Indonesia itu adalah bangsa yang lemah, bukan! bukan bangsanya tapi pemimpin nya. Mereka yang memiliki kekuasaan untuk mengontrol negeri ini malah menjadikan kekuasaan sebagai alat penghasil uang, mereka menggali perut bumi, membakar hutan, mencemari lingkungan, mendirikan gedung-gedung pencakar langit, mendirikan pabrik-pabrik industri, layaknya mereka akan hidup dari semua itu, dan tanpa mereka sadari mereka telah merugikan banyak mahluk hidup, tanpa mereka sadari mereka telah melanggar undang-undang negara ini, tanpa mereka sadari mereka telah membunuh manusia yang telah memberi nya kekuasaan, tanpa mereka sadari, katanya!
    Mereka yang tampak gagah di poster-poster, menebar janji melalui kata-kata, ada yang bertuliskan, mari bangkit bersama saya, yang faktanya mereka-lah yang membuatnya terpuruk, ada juga yang bertuliskan, suara anda menentukan masa depan negeri ini, namun faktanya satu suara itu menjadi awal kehancuran, malah para pemimpin semakin semena-mena terhadap rakyat
negara ini semakin kesini semakin berevolusi menjadi negara demokrasi yang penuh drama, tidak ada yang betul-betul menepati janji yang telah mereka cipta
   Untuk negeriku tercinta dimana kini kami mengadu, pemimpin yang seharusnya tempat kami mengadu malah menjadi tempat yang paling menakutkan untuk kami berkeluh-kesah, negeri ini butuh sosok yang betul-betul mampu mendengarkan curahan hati kami,
Dan sekarang ibu Pertiwi kembali berduka atas meninggalnya kejujuran dan keadilan, mereka kembali membuat skenario untuk drama yang akan di tampilkan di depan para penonton yang yang matanya telah di tutup oleh kain, telinganya telah di tutup oleh kapas, mereka hanya duduk dan tidak menyaksikan drama yang tengah berlangsung.
    Di saat para  pahlawan bangsa tengah mengetahui ada yang ganjil, mereka bergerak atas nama rakyat, mereka membuka kain yang menutupi mata, mereka membuka kapas yang menutupi telinga, dan kami melihat drama yang di tampilkan tidak sesuai dengan skenario yang mereka buat.
Indonesia sedang tidak baik-baik saja, untuk negeriku tercinta Indonesia, kami sedang berusaha!

Sabtu, 07 September 2019

Menuju Borneo


        "Lima menit setelah kapal berlabuh"


Hari itu adalah hari keberangkatanku dari Celebes "Sulawesi" menuju Borneo "Kalimantan" semua barang kumasukkan kedalam daypack milikku, selepas magrib mobil pun tiba untuk menjemput, di antara gelapnya malam kala itu ada tangis yang bersembunyi pura-pura tegar dengan keberangkatan, nenek mencium pipi kiri dan kanan ku, aku mendengar isak tangis di antaranya, adik perempuanku menjamah tanganku dan menciumnya pun dengan adik laki-lakiku, selanjutnya aku memeluk ibuku tak jauh beda dengan nenek, ibuku juga bersuara tangis sesak dan pura-pura tegar, malam itu rasanya aku dan keluarga akan berpisah selamanya walaupun aku tahu bahwa jika umur panjang kita akan kembali bersua, bulan terimakasi malam itu aku terlihat kuat walau sebenarnya ada tangis yang terbelenggu, aku naik ke mobil hanya ada aku dan pak sopir, aku menoleh ke arah keluargaku aku menandai satu persatu wajah mereka, selamat tinggal pun tiba mobil berjalan membelah lorong ke arah jalan poros dan melaju di jalan raya, sampai jumpa lagi desaku.

   Mobil melaju ke arah yang lain, menjemput penumpang yang sudah menunggu di rumah masing-masing, satu persatu penumpang di jemput, tak jauh beda denganku, disana juga ada rasa haru akan kepergian keluarga yang mereka sayangi namun apa boleh buat di setiap pertemuan pasti selalu ada perpisahan, setelah semua penumpang di jemput, aku pun tertidur lelap pada pukul lima subuh aku tiba di kota Pare-Pare, matahari pagi telah sedari tadi menunggu kedatanganku, ada banyak bukit namun tidak terlalu tinggi.

   Pagi pun telah utuh, matahari kian meninggi di angkasa, aku melihat aktivitas manusia disana, ada ibu-ibu yang mengantarkan anaknya ke sekolah, ada pak polisi yang sedang berjaga, juga ada kakek-kakek yang sedang membaca koran dan minum kopi di teras rumahnya, pagi hari yah dimana semua aktivitas di mulai. Aku pun tiba di rumah pak sopir, selanjutnya aku bersiap mandi lalu makan, dan tidur sejenak dan sebangun aku dari tidur, sore pun tiba, aku dan penumpang lainnya di antar ke pelabuhan untuk selanjutnya menyebrang ku pulau Borneo atau Kalimantan, tiket sudah aku kantongi dengan mengucap "Bismillahi Rahmani Rahim" aku melangkahkan kaki ke atas kapal yang akan membawaku ke Borneo, setelah semua penumpang naik dan mendapatkan tempat tidurnya masing-masing, kapal pun berangkat dan tampak anak kecil di suruh oleh ABK kapal untuk melepas tali pengait kapal, jangkar di angkat, perlahan kapal berlayar sedikit demi sedikit pulau Sulawesi semakin buram dan akhirnya menghilang dari pandangan, yang ada hanya lautan lepas serta senja yang mengiringi keberangkatan kami semua, sungguh indah sore itu, angin membelai rambutku, perasaan yang sangat damai, kapal semakin melaju membelah ombak yang tampak ganas, matahari tenggelam aku pun masuk ke dalam kamar untuk makan malam lalu tidur, satu hari dua malam aku berlayar di tengah lautan, akhirnya aku pun tiba di pelabuhan Nunukan, buru bantu mulai berisik menawarkan tenaga mereka untuk mengangkut barang bawaan penumpang beruntungnya aku hanya membawa daypak, aku pun melangkah keluar dan menginjakkan kaki di pulau ini, pulau Kalimantan aku tiba, selang beberapa saat menunggu di pelabuhan akhirnya sanak keluarga datang menjemput dengan menggunakan mobil angkutan umum yang mereka sewa, mobil menggerus jalan raya yang sedikit berlubang setelah cukup lama berkendara di jalan aku pun akhirnya tiba di tempat bapak tinggal.

Tamat.

Rabu, 31 Juli 2019

Cerita Di Masa Kecil



CERITA DI MASA KECIL

Masa kanak-kanak ibarat bongkahan emas yang sangat berharga. Namun, setiap manusia harus menukar bongkahan emas itu dengan perjalanan menuju masa depan. Masa kecil tidak akan selamanya tinggal bersama kita. Lambat laun, kita tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berbeda, bahkan terkadang asing bagi diri sendiri.

Masa kanak-kanak adalah masa yang paling indah. Saat itu, kita belum mengenal kerasnya kehidupan. Pikiran kita hanya dipenuhi keinginan untuk bermain. Tidak ada cinta, tidak ada pacaran, tidak ada Facebook ataupun Instagram. Yang ada hanyalah belajar dan bermain. Begitulah polosnya dunia anak-anak.

Begitu pula dengan seorang bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Namanya Bopeng.


Pagi buta, emak membangunkanku untuk mandi dan bersiap berangkat ke sekolah. Setelah mandi, emak memakaikanku seragam yang rapi. Bajuku dimasukkan ke dalam celana, rambutku diolesi minyak kemiri lalu disisir ke samping hingga mengilap. Setelah itu, wajahku dipoles bedak bayi. Emak kemudian mengajakku berdiri di depan cermin.

"Anakku memang gagah."

Aku hanya tersenyum bangga mendengar pujian itu.

Sebelum berangkat, emak menyuapiku sepiring nasi goreng buatannya. Bagiku, nasi goreng buatan emak adalah yang paling enak di seluruh lorong tempat tinggalku.

Dengan perut kenyang dan pakaian rapi, aku diantar bapa' ke sekolah menggunakan motor Supra tua kesayangannya. Motor itu melaju pelan membelah udara pagi yang masih dingin. Di sepanjang perjalanan, pegunungan hijau selalu menemani pandanganku. Saat itu aku belum tahu bahwa pemandangan sederhana seperti itu kelak akan menjadi kenangan yang sangat mahal.

Sesampainya di gerbang sekolah, aku turun dari motor. Sebelum pergi, bapa' menyelipkan uang saku seribu rupiah ke dalam kantong bajuku. Jumlah yang terasa begitu besar bagi anak kecil sepertiku.

Aku berjalan menuju kelas satu. Dua orang temanku sudah datang lebih dulu.

Seperti biasa, pembicaraan kami tak jauh dari bermain. Namun pagi itu ada satu masalah yang membuat kami gelisah: PR Matematika belum kami kerjakan. Bukan karena malas, tetapi karena kami memang tidak mengerti cara menghitungnya. Teman yang biasanya membantu kami juga belum datang.

Karena guru belum masuk, kami pergi ke kantin belakang sekolah membeli jajanan. Tak lama kemudian, lonceng berbunyi. Kami berlari sekencang mungkin menuju kelas.

Semua murid sudah duduk rapi.

Guru masuk, ketua kelas memberi aba-aba hormat, lalu kami mengucapkan salam bersama-sama.

Tak lama kemudian, guru meminta semua PR dikumpulkan.

Selanjutnya kalian pasti sudah bisa menebaknya.

Aku dan dua temanku berdiri di depan kelas sebagai hukuman. Dengan satu kaki terangkat dan kedua tangan menyilang memegang telinga, kami hanya bisa menahan malu hingga jam istirahat berbunyi.

Setelah hukuman selesai, aku menggunakan sisa uang sakuku yang tinggal lima ratus rupiah untuk membeli minuman. Sisa waktu istirahat kuhabiskan bermain kelereng bersama teman-teman.

Jam pelajaran terakhir adalah pelajaran yang paling kusukai: menggambar.

Aku menggambar dua gunung dengan jalan membelah di tengahnya, persis seperti pemandangan di desaku.

Ketika lonceng pulang berbunyi, rasa kantuk dan lelah yang sejak pagi kurasakan seketika menghilang. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi anak SD selain mendengar suara lonceng pulang sekolah.


Aku dan teman-teman berjalan kaki pulang di bawah terik matahari. Sepatu kami jinjing agar tidak cepat rusak, sementara telapak kaki menahan panasnya jalan aspal.

Di tengah perjalanan, kami sering tergoda melihat buah-buahan milik orang. Diam-diam kami memetik beberapa buah. Begitu pemiliknya keluar, kami langsung berlari tunggang-langgang. Siapa pun yang terlambat berlari pasti akan tertangkap.

Sesampainya di rumah, aku melepas seragam, makan siang, lalu bersiap pergi mengaji.

Sebelum mengaji, aku mengisi sebuah jerigen dengan air lalu membawanya ke rumah guru mengajiku. Begitulah caraku membantu beliau sebagai ungkapan terima kasih atas ilmu yang diberikan.

Setelah mengaji selesai, petualangan kami yang sesungguhnya baru dimulai.

Aku dan teman-teman pergi berenang di sungai. Setelah puas bermain air, kami mencabut ubi milik orang untuk dibakar bersama.

Kenakalan kami memang luar biasa, tetapi begitulah dunia anak-anak.

Ketika matahari mulai condong ke barat, kami tahu saatnya pulang. Mata kami merah karena terlalu lama berenang.

"Merah tidak mataku?"

Pertanyaan itu selalu kami lontarkan satu sama lain sebelum pulang ke rumah.

Dari kejauhan terdengar suara emak memanggil.

"Bopeng... pulang!"

Aku pun berlari sekencang mungkin.

Namun usahaku sia-sia.

Sesampainya di rumah, bapa' sudah mengetahui bahwa aku baru saja berenang di sungai. Aku dimarahi bahkan dipukul, sementara emak terus mengomel. Aku hanya bisa menangis.

Malam harinya aku belajar di ruang tamu menggunakan buku pinjaman dari perpustakaan sekolah. Tanpa sadar aku tertidur.

Dalam keadaan setengah sadar, kurasakan seseorang mengangkat tubuhku.

Itu bapa'.

Beliau menggendongku menuju tempat tidur, menyelimutiku, lalu mematikan lampu.


Kini aku telah dewasa.

Sering kali aku membantah bapa' dan membuat emak bersedih. Baru sekarang aku menyadari bahwa di balik setiap omelan emak dan setiap kemarahan bapa', tersimpan kasih sayang yang begitu besar.

Yang paling kuingat bukan pukulan bapa' ketika aku pulang dari sungai, melainkan pelukannya saat menggendongku ke tempat tidur.

Mungkin begitulah cara orang tua mencintai anaknya.

Dan kini, yang tersisa hanyalah kenangan tentang masa kecil yang tak akan pernah bisa kujalani untuk kedua kalinya.

— TAMAT —

Minggu, 27 Januari 2019

Kopi Itu

"KOPI"







K-enikmatan
O-ral
P-emersatu
I-nsan

    Kopi berasal dari bahasa Yunani kuno KO yang berarti (bubuk) dan Pi yang berarti (hitam)
jadi kopi adalah (bubuk hitam), hahahahahah bukan seperti itu wahai para SPY
saya sendiri mengarang-ngarang bahasa Yunani kuno barusan agar tidak terlalu tegang membaca tulisan ini, sebab  kopi tidak memberi ketegangan bagi yang meminumnya melainkan memberi ketenangan.

    Yah begitulah saya mendefinisikan secangkir kopi, (kenikmatan) yang selalu ada untuk kita rasakan, (oral) melalui mulut lalu berpencar ke otak dan hati, (pemersatu) semua kalangan baik tua maupun muda, (insan) menjadi bagian dari kopi itu sendiri dan berteman dengannya.
    Saya bangga hidup di negara Indonesia, dimana tanaman kopi melimpah ruah walau awal mula kedatangan kopi di Indonesia jika ingin di bahas begitu sangat menyedihkan, petani kopi kerja rodi (kerja paksa) oleh belanda, bekerja tanpa imbalan apa-apa dan sekarang kita hanya tinggal duduk manis di jendela kamar lalu menikmati secangkir kopi, kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada pendahulu kita karena tanpa mereka kita tidak mungkin bisa meminum kopi senikmat ini hari ini.
    Kopi juga salah satu bagian dari ke-seksian Indonesia, memikat bangsa-bangsa lain untuk masuk dan mengambil alih kekuasaan.
kopi di dunia merupakan minuman kedua yang paling sering di minum oleh manusia setelah air putih
    Di dalam secangkir kopi sendiri terdapat banyak manfaat bagi tubuh, terutama orang yang memiliki berat badan yang bisa di bilang gendut, sangat cocok untuk meminum kopi, karena meminum kopi dapat menurunkan berat badan seseorang, dan mungkin setelah anda(wanita) membaca ini, akan langsung meminum dan mencintai kopi, manfaat lain yang di timbulkan kopi adalah dapat memicu tekanan darah, sangat cocok untuk orang yang kurang darah, namun maaf bagi yang darah tinggi sebaiknya mengontrol diri anda agar tidak mengikuti nafsu anda untuk meminum kopi, karena jika tidak mungkin, melihat secangkir kopi pun tidak akan lagi, sebab anda sudah di alam lain. Dan lagi kopi juga membantu kerja otak untuk berfikir lebih intensif dan lebih sadar lagi, saya sendiri merasakan hal itu, setelah saya meminum secangkir kopi saya merasa lebih tenang untuk memirkan hal-hal yang awalnya otak saya tidak mampu untuk mencapainya.
     Pertama kali saya mengenal kopi adalah saat saya berumur kurang lebih 8-9 tahun, dimana saya di ajak nenek untuk pergi memanen kopi di kebun
saya jarang membeli kopi karena lebih menyukai kopi olahan nenek sendiri, rasanya juga lebih alami dan aromanya lebih nikmat, pertama saya merasakan kopi biasa-biasa saja, yang terlintas di otak saya saat itu, adalah "ini minuman apa, setiap hari nenek saya membuatnya dengan secangkir full, rasanya juga pahit, saya membenci kopi saat itu, dan seiring, sejalannya waktu, saya tumbuh menjadi anak remaja, mulai berfikir dan menanggapi kopi, meminum secara wajar hingga akhirnya jatuh cinta setelah menghina, saya akui mungkin saya munafik pada waktu kecil sebab menolak kopi yang di dalamnya tersimpan sejuta rasa yang saya tidak temui di minuman lain.
    Kopi juga sudah menjadi sahabat saya, ketika saya memiliki masalah baik itu ringan maupun berat, saya selalu membuat secangkir kopi, dan ketika saya mulai menghirup dan menyeruput kopi, saya merasakan ketenangan, saya kembali menemukan definisi lain tentang kopi yaitu, "sahabat bisu yang selalu mengerti masalah yang kita hadapi".
Kopi juga sudah tidak bisa hilang dari perjalanan saya, setiap saya pergi berpetualang kopi olahan nenek, selalu saya bawa karena saya tidak pernah tahu kapan saya ingin minum kopi lagi dan lagi
dan jika ada pertanyaan " kenapa anda suka meminum kopi" mungkin saya akan menjawab dengan seperti ini "jawabannya ada pada secangkir kopi"
bahagialah sebab kebahagiaan tidak selalu harus mahal dan mewah, kebahagiaan selalu ada untuk kita, selama kita kreatif untuk menciptakannya. Mari ngopi

           - TAMAT-