CERITA DI MASA KECIL
Masa kanak-kanak ibarat bongkahan emas yang sangat berharga. Namun, setiap manusia harus menukar bongkahan emas itu dengan perjalanan menuju masa depan. Masa kecil tidak akan selamanya tinggal bersama kita. Lambat laun, kita tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berbeda, bahkan terkadang asing bagi diri sendiri.
Masa kanak-kanak adalah masa yang paling indah. Saat itu, kita belum mengenal kerasnya kehidupan. Pikiran kita hanya dipenuhi keinginan untuk bermain. Tidak ada cinta, tidak ada pacaran, tidak ada Facebook ataupun Instagram. Yang ada hanyalah belajar dan bermain. Begitulah polosnya dunia anak-anak.
Begitu pula dengan seorang bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Namanya Bopeng.
Pagi buta, emak membangunkanku untuk mandi dan bersiap berangkat ke sekolah. Setelah mandi, emak memakaikanku seragam yang rapi. Bajuku dimasukkan ke dalam celana, rambutku diolesi minyak kemiri lalu disisir ke samping hingga mengilap. Setelah itu, wajahku dipoles bedak bayi. Emak kemudian mengajakku berdiri di depan cermin.
"Anakku memang gagah."
Aku hanya tersenyum bangga mendengar pujian itu.
Sebelum berangkat, emak menyuapiku sepiring nasi goreng buatannya. Bagiku, nasi goreng buatan emak adalah yang paling enak di seluruh lorong tempat tinggalku.
Dengan perut kenyang dan pakaian rapi, aku diantar bapa' ke sekolah menggunakan motor Supra tua kesayangannya. Motor itu melaju pelan membelah udara pagi yang masih dingin. Di sepanjang perjalanan, pegunungan hijau selalu menemani pandanganku. Saat itu aku belum tahu bahwa pemandangan sederhana seperti itu kelak akan menjadi kenangan yang sangat mahal.
Sesampainya di gerbang sekolah, aku turun dari motor. Sebelum pergi, bapa' menyelipkan uang saku seribu rupiah ke dalam kantong bajuku. Jumlah yang terasa begitu besar bagi anak kecil sepertiku.
Aku berjalan menuju kelas satu. Dua orang temanku sudah datang lebih dulu.
Seperti biasa, pembicaraan kami tak jauh dari bermain. Namun pagi itu ada satu masalah yang membuat kami gelisah: PR Matematika belum kami kerjakan. Bukan karena malas, tetapi karena kami memang tidak mengerti cara menghitungnya. Teman yang biasanya membantu kami juga belum datang.
Karena guru belum masuk, kami pergi ke kantin belakang sekolah membeli jajanan. Tak lama kemudian, lonceng berbunyi. Kami berlari sekencang mungkin menuju kelas.
Semua murid sudah duduk rapi.
Guru masuk, ketua kelas memberi aba-aba hormat, lalu kami mengucapkan salam bersama-sama.
Tak lama kemudian, guru meminta semua PR dikumpulkan.
Selanjutnya kalian pasti sudah bisa menebaknya.
Aku dan dua temanku berdiri di depan kelas sebagai hukuman. Dengan satu kaki terangkat dan kedua tangan menyilang memegang telinga, kami hanya bisa menahan malu hingga jam istirahat berbunyi.
Setelah hukuman selesai, aku menggunakan sisa uang sakuku yang tinggal lima ratus rupiah untuk membeli minuman. Sisa waktu istirahat kuhabiskan bermain kelereng bersama teman-teman.
Jam pelajaran terakhir adalah pelajaran yang paling kusukai: menggambar.
Aku menggambar dua gunung dengan jalan membelah di tengahnya, persis seperti pemandangan di desaku.
Ketika lonceng pulang berbunyi, rasa kantuk dan lelah yang sejak pagi kurasakan seketika menghilang. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi anak SD selain mendengar suara lonceng pulang sekolah.
Aku dan teman-teman berjalan kaki pulang di bawah terik matahari. Sepatu kami jinjing agar tidak cepat rusak, sementara telapak kaki menahan panasnya jalan aspal.
Di tengah perjalanan, kami sering tergoda melihat buah-buahan milik orang. Diam-diam kami memetik beberapa buah. Begitu pemiliknya keluar, kami langsung berlari tunggang-langgang. Siapa pun yang terlambat berlari pasti akan tertangkap.
Sesampainya di rumah, aku melepas seragam, makan siang, lalu bersiap pergi mengaji.
Sebelum mengaji, aku mengisi sebuah jerigen dengan air lalu membawanya ke rumah guru mengajiku. Begitulah caraku membantu beliau sebagai ungkapan terima kasih atas ilmu yang diberikan.
Setelah mengaji selesai, petualangan kami yang sesungguhnya baru dimulai.
Aku dan teman-teman pergi berenang di sungai. Setelah puas bermain air, kami mencabut ubi milik orang untuk dibakar bersama.
Kenakalan kami memang luar biasa, tetapi begitulah dunia anak-anak.
Ketika matahari mulai condong ke barat, kami tahu saatnya pulang. Mata kami merah karena terlalu lama berenang.
"Merah tidak mataku?"
Pertanyaan itu selalu kami lontarkan satu sama lain sebelum pulang ke rumah.
Dari kejauhan terdengar suara emak memanggil.
"Bopeng... pulang!"
Aku pun berlari sekencang mungkin.
Namun usahaku sia-sia.
Sesampainya di rumah, bapa' sudah mengetahui bahwa aku baru saja berenang di sungai. Aku dimarahi bahkan dipukul, sementara emak terus mengomel. Aku hanya bisa menangis.
Malam harinya aku belajar di ruang tamu menggunakan buku pinjaman dari perpustakaan sekolah. Tanpa sadar aku tertidur.
Dalam keadaan setengah sadar, kurasakan seseorang mengangkat tubuhku.
Itu bapa'.
Beliau menggendongku menuju tempat tidur, menyelimutiku, lalu mematikan lampu.
Kini aku telah dewasa.
Sering kali aku membantah bapa' dan membuat emak bersedih. Baru sekarang aku menyadari bahwa di balik setiap omelan emak dan setiap kemarahan bapa', tersimpan kasih sayang yang begitu besar.
Yang paling kuingat bukan pukulan bapa' ketika aku pulang dari sungai, melainkan pelukannya saat menggendongku ke tempat tidur.
Mungkin begitulah cara orang tua mencintai anaknya.
Dan kini, yang tersisa hanyalah kenangan tentang masa kecil yang tak akan pernah bisa kujalani untuk kedua kalinya.
— TAMAT —