Minggu, 05 Desember 2021

Insomnia.

          


Malam cukup kental menghitam serupa dengan kopi milik rujali dan mali, malam-malam di laluinya dengan nongkrong di warung kopi Bu Tejo, asap rokok kedua sahabat itu membumbung tinggi di langit-langit warung itu, sesekali jali menyeruput kopi hitam miliknya, sambil bercanda dengan sahabatnya mali, hingga membuat warung itu seolah-olah di dalamnya ada banyak orang sedangkan di sana hanya ada rujali, mali, dan Bu Tejo.

"Setiap malam kalian ke sini untuk minum kopi tapi utang kalian juga semakin menumpuk bisa bangkrut saya lama-lama"

"Ah bu tejo tenang saja, nanti kalo saya dan mali sudah bekerja dan punya uang pasti saya akan bayar lebih ke Bu Tejo yang cantik ini, iya kan Mali"

"Benar itu Bu Tejo, pasti nanti kami akan bayar, lagian kalo bukan kami yang membuat ramai warung ini lalu siapa lagi"

"Buat apa ramai kalau orang yang nongkrong seperti kalian, ingat utang tetap lah utang harus di bayar yah"

"Siap Bu Tejo"

Malam sudah mengantuk di tandai bulan yang kian meninggi, namun rujali dan mali belum lagi mengantuk. Bu Tejo melihat jam dinding milik nya, dan waktu sudah menunjukkan pukul 11 : 25 malam.

"Hei jali, mali kalian pulanglah ini sudah larut malam, saya sudah mau tutup warung"

"Sebentar lagi bu' saya dan mali lagi asik berbincang ini"

"Tapi saya sudah mau tutup warung ini saya mau tidur, sudah ngantuk"

"Yasudah bu' kami pulang"

Kemudian rujali dan mali pun beranjak dari tempat nya duduk dengan wajah yang seolah jengkel karena di usir oleh Bu Tejo.

"Bu Tejo bayarnya besok yah"

"Sama Bu saya juga"

"Ah kalian ini tiap malam seperti itu, sudah hafal saya"

Sekali lagi warung yang sepi di tengah malam itu seketika kembali berisik oleh suara tawa rujali dan Mali.

"Ya sudah Bu saya dan mali duluan"

"iya hati-hati di jalan kalian"

Tampak dari kejauhan Bu Tejo yang tengah menutup warung kecil miliknya
semakin jauh langkah kaki rujali dan Mali meninggalkan warung Bu tejo, lalu yang tersisa hanya cahaya lampu warung Bu Tejo.

"Mali kalau nanti aku sukses dan sudah punya banyak uang aku akan membayar semua utangku ke Bu Tejo"

"Aku juga jali, Bu Tejo itu orang nya sangat baik, setiap hari kita ngutang tapi tidak pernah dia marah dan menuntut lebih ke kita"

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 : 35 malam, rujali dan mali belum lagi mengantuk, mereka berjalan di bawah rembulan dan tepat di samping nya sungai yang aliran airnya begitu tenang, kemudian mereka berdua singgah dan duduk pada sebuah batu.

"Mali kapan kau terakhir kali tidur dengan cepat"

"Dulu waktu masih sekolah yah jam tidur ku sekitar jam 8 dan sudah di katakan begadang kalo sampai jam 9, kalo kamu sendiri?"

"Yah sama aku juga seperti itu, semenjak lulus sekolah jam tidur ku sudah tidak teratur, apalagi sekarang nganggur, tidur malam susah bangun pagi juga susah, kadang aku tidurnya jam 4 subuh terus bangun nya jam 5 sore, stres aku mali mikirin kehidupan ini"

"Begitu juga aku jali, tidak bisa tidur cepat apalagi kalo sudah minum kopi Bu tejo hahaha"

Waktu terus berjalan, kopi Bu Tejo benar-benar membuat rujali dan Mali menjadi terjaga, waktu kemudian menunjukkan pukul 01 : 42 pagi rujali dan mali belum lagi beranjak dari tempat nya duduk, sekarang mereka berdua sambil tiduran di atas batu itu, melihat bulan yang terang serta suara aliran sungai seolah mengajak mereka berdua untuk hanyut di dalam nya, jangkrik seolah menjelmah bagai biola alam, membuat rujali dan Mali seperti sedang berada pada negeri dongeng, malam itu mereka berdua sayup dalam tenang nya malam.

"Mali apakah kau sudah tidur?"

"Belum jali, aku tidak bisa tidur kalau ada cahaya, tolong matikan lampunya"

"Maksud mu bulan yang di atas kita ini"

"Hahahaha iya kau bisa kan jali"

"Seperti nya kau sudah ngawur mali mana bisa aku matikan cahaya bulan, kecuali aku adalah tuhan"

"Jali apakah ibu mu tidak mencari mu?"

"Ibu ku tahu aku dimana jadi dia tidak pernah mencari ku"

"Warung Bu Tejo hahahaha"

"Iya hahahaha"

Kembali pagi yang sayup itu menjadi riuh oleh suara tawa rujali dan mali, mereka berdua benar-benar melupakan waktu, dan sekarang sudah pukul 02 : 00 pagi.

"Mali aku rindu bisa tidur tepat waktu, andai aku bisa tidur di bawah jam 9 mungkin aku akan sangat senang"

"Hahahaha bagaimana bisa jali sedangkan kita setiap malam minum kopi"

"Oh iya rokok mu sudah habis belum li?"

"Oh iya yah, aku sampai lupa tunggu sebentar"

Lalu Mali merogoh kantong celananya, ada 2 batang rokok yang tersisa di dalam kantong celana milik nya.

"Masih ada jali, sisa dua batang, ini satu untuk mu dan satu lagi untuk ku"

"Mana koreknya?"

"Ini biar aku bakarkan punyamu hahaha"

"Seperti bos saja aku ini yah"

Kemudian mereka terbangun lalu duduk sambil menghisap rokok, asap nya membumbung perlahan seolah akan menyatu dengan awan-awan yang berada di atas kepala mereka, suara kretek bara rokok rujali dan mali berteman jangkrik di pagi yang masih buta itu, sekarang pukul 03 : 00 pagi, suhu semakin dingin dan rokok mereka berdua menjadi penghangat nya.

"Rokok ini memang nikmat yah mali"

"Iya jali apalagi di tempat dan suhu yang dingin seperti ini, seolah rokok dan suasana sudah lama akrab sama seperti kita berdua"

"Hahahaha kata-kata mu sudah seperti seorang sastrawan saja mali"

"Hahahah amin"

Rokok mereka pun habis lalu mereka berdua berdiri sambil menepuk bokong dan belakang badan mereka untuk membersihkan debu yang melekat lalu suara ayam berkokok pertanda sebentar lagi pagi akan terbangun.

"Kau dengar itu mali, suara ayam berkokok sebentar lagi akan pagi dan kita masih belum mengantuk"

"Benar-benar kopi Bu Tejo memang paling mantap sampai kita lupa waktu begini"

Mereka berdua kemudian berjalan meninggalkan tempat mereka berbincang dari tadi, menyisir jalan yang remang-remang itu, sampai lah Mali di depan rumah nya, kemudian melambai kepada rujali.

"Duluan yah jali, hati-hati di jalan"

"Iya mali, sampai ketemu besok maksudnya malam hahahaha"

"gila kau jali, yasudah lah"

Kemudian hanya tersisa rujali seorang diri berjalan menapaki jalan yang mengarah ke rumahnya, rujali tiba di rumahnya pada pukul 04 : 26 pagi, di temuinya ibunya sedang mencuci piring.

"Baru pulang kau jali, begadang terus kau setiap hari"

"Iya bu, biasa nongkrong di warung Bu Tejo sama mali, oh iya Bu jali besok minta uang yah buat bayar utang jali di warung Bu tejo"

"Sudah tidak kerja, begadang terus, ngutang lagi, mau jadi apa kau ini jali"

"Tenang saja Bu nanti kalau jali sudah Sukses dan punya banyak uang pasti jali akan membahagiakan ibu dan bapak"

"Ya sudah sebentar kalau bapak mu sudah bangun ibu minta uang untuk mu"

"Makasih bu, yasudah jali mau masuk kamar, mau tidur"

Sambil geleng-geleng ibu rujali melihat jali anaknya berjalan memasuki kamarnya, dan jali kemudian menutup pintu kamar dan merebahkan badannya, sambil mengatai dirinya sendiri, "jali kau ini seperti hewan nokturnal saja yang mencari makan di malam hari dan tidur di pagi hari" kemudian rujali tertidur dengan sangat pulas, lemas usai begadang dengan mali, mali pun sama hal nya dia juga tertidur pulas, kafein pada kopi buatan Bu Tejo tidak lagi mampu membuat rujali dan Mali terjaga, mereka berdua tertidur pulas pada pagi yang sebentar lagi sempurna. Waktu menunjukkan pukul 06 : 00 pagi bapak rujali sudah bangun dan rujali mulai bermimpi dalam tidur nya.

"Pagi bu, rujali pulang jam berapa yah?"

"Biasa pak begadang lagi, pulang nya jam setengah 5 tadi subuh"

"Anak itu mau jadi apa yah Bu"

"Entah lah pak, oh iya dia tadi minta uang ke ibu tapi tidak bilang jumlah nya berapa"

"Untuk apa dia minta uang"

"Kata nya mau bayar utang kopi nya di warung Bu tejo"

"Anak itu benar-benar yah Bu"

"Yasudah lah pak, nanti juga dia akan sadar sendiri kalau sudah tiba waktu nya"

Pagi itu ibu dan bapak rujali membahas tentang rujali, tidak lupa bapak rujali memberi uang ke ibu rujali, sebelum akhir nya bapak rujali berangkat untuk bekerja.

"Ya sudah Bu bapak jalan dulu"

"Iya pak hati-hati di jalan"

Rujali ter tidur pulas di kamar nya
dan waktu sekarang menunjuk kan pukul 04 : 56 sore, rujali ter sentak oleh suara motor milik bapak nya yang pulang dari bekerja, rujali kemudian terbangun dan melihat jam dinding pada kamar nya.

"Sudah sore ternyata waktunya bangun"

Lalu rujali berjalan keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka nya, di dapati nya ibu dan bapak nya di ruang tengah.

"Baru bangun kau jali"

"Iya pak, habis begadang tadi malam, soalnya susah tidur"

"Kau itu setiap malam begadang dan merokok benar-benar hidup yang tidak sehat, apalagi kamu katanya sering mengutang di warung kopi milik Bu Tejo"

"Yah kan namanya juga anak muda pak mau bagaimana lagi, nanti juga rujali berubah"

"yah bapak cuma bisa menasehati kau jali semoga bisa benar-benar berubah"

"iya pak, rujali usahakan"

Tidak ada yang berubah pada hidup rujali setiap malam rujali keluar bersama Mali dan pulang subuh lagi dan lagi, hingga akhirnya rujali terserang penyakit akibat pola hidup nya yang tidak sehat selama ini, setelah rujali di larikan ke rumah sakit dan di rawat selama beberapa minggu, rujali akhirnya menghembuskan napas terakhirnya akibat penyakit yang di derita nya, orang tua rujali, Mali, dan Bu tejo, sangat bersedih dengan kematian rujali, sekarang rujali tidak akan begadang lagi, dan tidak akan sulit lagi untuk tidur, rujali akan tidur panjang dalam peristirahatan terakhir nya.




Minggu, 11 April 2021

Sayap Angsa


Pagi yang masih mengantuk itu terbangun oleh suara angsa-angsa pak Somad yang berbunyi bergantian seolah sedang mengabarkan kepada tuannya bahwa mereka sedang dalam bahaya, tidak lain Roni yang telah membuat kebisingan di pagi buta itu, anak yang bermimpi dapat terbang seperti burung itu tengah mencabuti bulu-bulu angsa milik pak Somad. 

Lihatlah Denis, ujang sebentar lagi kalian akan menganga seperti buaya yang sedang kelaparan lantaran melihatku dapat terbang di angkasa, bulu-bulu angsa ini akan ku rangkai menjadi sayap dan kalian tidak akan mengataiku orang gila lagi, kraaaakk....kraaaak suara angsa-angsa itu semakin berisik, hingga membangunkan pak Somad yang tengah tertidur pulas.

"Ada apa dengan angsa-angsa itu kenapa sangat berisik"

pak Somad berlari keluar dengan setengah sadar, dengan sarung yang melingkar di pinggangnya, dan senter tua di tangan kanannya, mendengar suara pak Somad yang berteriak Roni bergegas lari dari kandang angsa itu sambil memegang bulu-bulu angsa yang di dapatnya. 

Woi siapa disana, sambil mengarahkan cahaya senter miliknya, pak Somad mendekati kandang miliknya lalu masuk ke dalam, Roni tidak lagi berada di dalam sana, pak Somad mendapati angsa-angsanya dengan bulu sayap yang telah di cabuti, pak Somad benar-benar marah melihatnya.

"Untung saja aku bergegas keluar tadi kalau tidak pak Somad bisa memukuliku"

Roni memang terkenal sebagai anak yang nakal dan pemberani dia mampu melakukan hal-hal yang cukup berbahaya jika dia menginginkannya. Roni pernah membaca sebuah buku tentang manusia yang dapat terbang akhirnya dia terinspirasi dari buku itu, dan ini bukan pertama kalinya Roni melakukan percobaan seperti itu, Roni beberapa kali mencoba terbang dengan berbagai cara salah satunya dengan daun pisang yang dia lilitkan di kedua tangannya lalu melompat dari atap belakang rumahnya, hasilnya Roni terbang beberapa detik lalu akhirnya tergeletak di tanah dengan tulang kakinya yang patah, ibunya sering memarahi Roni namun Roni tidak pernah ingin berhenti untuk mewujudkan mimpinya itu.

Matahari lalu kian meninggi,

"Kalau aku tahu siapa orang itu Bu aku akan memberikannya benjolan besar di kedua kelopak matanya bagaimana tidak sayap angsa-angsa ku di cabutinya hingga tersisa sedikit"

"Sudah pak, sabar ini ujian beberapa bulan lagi mungkin sayap angsa-angsa bapak akan tumbuh kembali"

"iya Bu dan mungkin beberapa bulan lagi angsa-angsa itu akan mati karena kesakitan.

"Sudah pak ini kopinya di minum dulu takut dingin"

"Pak Somad memanas pagi itu lantaran tidak mengetahui siapa pelakunya, dan agaknya Bu Susi tidak usah risau jika kopi suaminya menjadi dingin sebab suaminya tengah memanas"

di satu sisi Roni merangkai bulu-bulu angsa yang di dapatnya hingga membentuk sebuah sayap besar

Akhirnya jadi juga sebentar lagi dunia akan melihat seorang anak kecil yang dapat terbang di angkasa, Denis dan ujang benar-benar akan takjub melihatku, mereka berdua akan menarik ucapan mereka waktu itu, Roni keluar melalui pintu belakang rumahnya, mengendap-endap nyaris tidak terdengar, jika ibunya tahu Roni akan kena marah lagi, setelah cukup jauh dari rumahnya, Roni bergegas memacu kaki-kaki kecilnya menyeruak semak-semak lalu muncul di jalan poros desa, di jalan Roni bertemu Denis dan ujang, dari jarak delapan meter tampak Denis dan ujang saling berbisik.

Lihat Jang, si Roni si anak ayam yang bermimpi terbang seperti burung hahahah

iya den, dia masih saja tidak jerah setelah beberapa kali hampir mati karena mimpi gilanya itu dan sekarang lihat dia membawa apa, dia membawa sayap yang terbuat dari bulu angsa Jang hahaha.

Kemudian Roni, Denis dan ujang berdiri saling berhadapan, lihat siapa ini Jang manusia burung dasar orang gila mana mungkin kamu bisa terbang.

Roni menyambar percakapan mereka berdua, lihat saja nanti mulut kalian berdua akan ku beli setelah aku berhasil terbang, kalian berdua akan ku ludahi dari langit, kepala kalian berdua akan basah, lalu kalian berlari sambil menangis dan bersembunyi di rumah kalian masing-masing.

Denis dan ujang berjalan meninggalkan Roni, mimpi saja kau terus roni hahahaha dasar orang gila.

sambil berteriak roni berkata kepada mereka berdua, kalian berdua bersiaplah aku akan datang, tunggu saja.

Roni berjalan menuju tower tua di pinggir desa sambil membawa sayap buatannya lalu Roni memanjat tower itu hingga ke puncak lalu memakai sayap buatannya.

Ini dia Roni setelah melompat dari sini dunia akan takjub padamu.

Roni menutup matanya, angin mengelus badan mungilnya, serta mengacak-acak rambutnya, lalu melompat ketika ia membuka matanya ia berhasil terbang, berteriak sambil mengelilingi desanya, menyapa orang-orang desa, dan tidak lupa janjinya kepada Denis dan ujang, Roni memperlihatkan bahwa dirinya berhasil terbang, Denis dan ujang benar-benar menganga seperti buaya yang sedang kelaparan, lalu Roni mengejar mereka berdua, meludahi mereka berdua, membuatnya menangis, mengusirnya hingga masuk ke dalam rumah masing-masing, Roni benar-benar gembira sebab ia berhasil terbang, hingga sebelum beberapa saat kemudian tubuhnya di temukan kaku di bawah tower tua itu, Roni tidak benar-benar terbang, setelah menutup matanya dan melompat ia akhirnya terjun bebas ke tanah, lalu seketika mati.

Rabu, 26 Agustus 2020

Bebas.








Berbicara tentang bebas semua manusia pasti ingin bebas.
bebas dari segala hal yang bersifat menahan dan bebas sendiri jika di artikan ke dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) adalah lepas sama sekali, tidak terhalang, dapat bergerak, berbicara, dan leluasa dalam segala hal.

Kurang lebih seperti itulah makna kata bebas dalam penjelasan secara umum, namun secara pribadi terdapat orang-orang yang beranggapan lain mengenai kata bebas, ada yang mengartikan bebas jika masih hidup dan bernafas, ada juga yang berkata bebas itu jika kita telah mati, dan ada juga yang beranggapan bebas itu bisa berjalan dan berlari, dan ada juga yang berkata bebas itu bisa pergi kemanapun, makan apapun, dan membeli apapun. Dan masih banyak jenis bebas-bebas yang lainnya.

Dan bebas menurut saya pribadi itu tidak ada dan mungkin tidak akan pernah ada, mengapa demikian? Sebab bebas menurut saya itu hanya sebatas kata dan tidak lebih, terkadang orang berkata "aku adalah manusia paling bebas yang ada di muka bumi" sebab memiliki segala sesuatu yang di inginkan meliputi harta, jabatan dan lainnya. Sampai melupakan makna dari kata bebas itu sendiri. Seseorang makan dan hidup hasil dari bekerja, dan bahkan pencuri saja harus mencuri jika ingin mendapatkan yang di inginkan, dan jika mereka tertangkap mereka akan di penjara, lalu makna kata bebas akan semakin jauh dari sini. 

Orang-orang selalu mendeklarasikan dirinya sebagai manusia bebas, namun mereka masih terikat dengan hal-hal yang menyimpang dari kata bebas
bebas namun terikat dengan pekerjaan, bebas namun terikat dengan agama,
bebas namun terikat oleh undang-undang negara, bebas namun masih membayar pajak, bebas namun membayar ketika belanja di toko, bebas namun jika mencuri akan di tangkap polisi, dan masih banyak lagi bebas-bebas lainnya, dan mungkin jika bebas itu ada, hanya akan menimbulkan perang, lalu bebas itu seperti apa, bebas menurut saya hanyalah sebatas kata penenang agar bumi dapat tenang
Bebas adalah apa yang kita syukuri sebab kebebasan adalah jalan yang tidak berujung.

Kamis, 25 Juni 2020

Tuhan Dimana?

    
    Tidak ada yang tidak mungkin kecuali menjadi tuhan, mungkin sebagian orang atau seluruhnya membenarkan hal itu, namun segelintir orang berkata lain. Seorang pemuda tengah berjalan menyusuri gang kota, kumuh, dan kotor di temuinya satu keluarga bapak, ibu dan anak kecil, mereka semua kelaparan, pemuda itu lalu bergegas menuju supermarket untuk membeli sembako untuk keluarga itu, beras, mie instan, roti, susu, telur, dan kebutuhan pokok lainnya, serta membeli makanan siap santap sebanyak lima porsi untuk keluarga itu, lalu kembali ke tempat keluarga kecil itu  dengan sekantong makanan di tangan kiri dan kanannya, tampak wajah keluarga itu benar-benar membuat siapapun manusia yang melihatnya merasa iba kecuali iblis mungkin, mereka semua bersujud di hadapan pemuda itu, menangis, bersyukur atas apa yang di berikannya, lalu anak itu bertanya kepada bapak nya,
"bapak apakah dia tuhan?"
"iya nak dia tuhan, tuhan yang nyata" 
pemuda itu membenarkan, tidak adik kecil, juga bapak, saya hanya manusia biasa saya hanya sedang berjalan-jalan saja, dan tidak sengaja melihat kalian semua yang tengah tertidur di tempat ini.
tidak nak kau adalah tuhan yang nyata untuk kami, kami sudah tidak makan sejak tiga hari yang lalu, dan mungkin saja besok kami semua akan mati karena kelaparan, namun engkau datang, kau tuhan untuk kami, kau memberi kehidupan untuk kami semua nak, dengan wajah memelas tampak air mata bercucuran, bapak itu bersujud dan mencium kaki pemuda itu, pun dengan istri dan anak-anaknya, kembali pemuda itu berkata, sambil mengangkat badan bapak itu, sungguh saya bukan tuhan, saya hanya manusia biasa sama seperti kalian, tuhan sebenarnya ada di dalam hati kita, bapak itu memotong, iya dan mungkin juga tuhan itu sekarang menyamar di hadapan kami, pemuda itu lalu berkata, saya bukan tuhan dan tidak pantas di tuhankan, saya hanya ingin berbuat baik supaya tuhan yang sebenarnya melihat saya, dan mungkin suatu hari saya akan bernasib sama seperti bapak, saya hanyalah utusan yang di utus Tuhan untuk bertemu dengan bapak, terimakasih nak, terimakasih, semoga tuhan yang kau maksud senantiasa memberikan kebahagiaan untuk dirimu, pemuda itu mengangguk dan meminta diri untuk pamit, lalu berjalan meninggalkan keluarga itu, semakin jauh ke arah Utara kota, terdengar suara bapak itu dari kejauhan, terimakasih tuhan.
pemuda itu tersenyum, dalam hati berkata sungguh miris negeriku ini bahkan masih ada orang yang tidak tahu makna dari Tuhan itu apa.

tamat.

Jumat, 19 Juni 2020

Mimpi Buruk

       
    
    Malam itu roy baru saja pulang dari tempat nya bekerja, dan tengah menunggu mobil angkutan umum lewat, sama seperti malam-malam biasanya kota yang mulai sayup-sayup dari kebisingan ramai, waktu menunjukkan pukul 11:04 malam di lihatnya arloji yang melingkar di tangannya.

"sudah jam segini biasanya angkotnya sudah lewat tapi ini belum juga muncul"

dilihatnya lagi arloji miliknya yang tampak usam itu, roy adalah seorang buruh pabrik di salah satu perusahaan yang dari dulu memang naik angkot ketika pergi dan pulang dari bekerja. dengan wajah yang mulai kusut serta keringat yang bercucuran di dahinya, roy semakin gelisah menunggu angkot yang juga tidak kunjung datang. tidak lama kemudian tampak dari kejauhan cahaya lampu angkot menyoroti wajah roy, angkot tua dengan warna biru, serta kepulan asap yang tampak ingin melahap cahaya lampu jalan.

"akhirnya datang juga tiket pulang ku"

angkot berhenti tepat di halte pemberhentian dimana roy sedari tadi menunggu, dengan suara mesin yang bergemuruh berisik tidak terarah, roy
melangkah ke arah angkot, menaikkan kaki kanannya dan melihat ke dalam angkot, beberapa penumpang, hanya ada tiga orang, dua orang adalah pria dan satunya lagi adalah seorang wanita, roy melihat satu-persatu wajah dari penumpang itu dua pria itu berdekatan dan wanita duduk di bangku yang lain, roy duduk di sebelah wanita itu, tanpa aba-aba mobil angkot berjalan perlahan meninggalkan halte itu, semakin jauh hingga yang tersisa hanya sedikit cahaya lampu dari halte itu, roy kembali melihat arloji miliknya sekarang pukul 11:20 malam.

"pak jalan semangka nomor 04 yah"
"saya turun di situ saja"

roy memberi tahu sopir angkot itu untuk memberhentikannya di alamat itu, tanpa jawaban apa-apa sopir itu tidak menyahut, roy melihat ke arah kaca spion depan dilihatnya wajah pak sopir pucat seperti mayat, dalam hati roy berkata

"kenapa dari tadi tidak ada yang menyahutku terlebih lagi pak sopir yang biasanya ramah"

dari awal roy naik ke angkot itu semua orang wajahnya datar, seperti sedang marah

"mba' mau kemana?"

wanita itu juga tidak menyahut wajahnya juga pucat sama seperti pak sopir pun dengan dua pria yang ada di depannya itu, kembali roy melihat arloji miliknya kini waktu menunjukkan pukul 11:25 malam, sambil bersandar pada bagian belakang angkot roy akhirnya tertidur lalu akhirnya tersadar dengan suara anjing yang menggonggong, angkot yang mengankutnya itu sudah pergi entah kemana, dengan wajah setengah sadar roy terbangun dan melihat sekelilingnya hanya ada kuburan.

"hah ini aku dimana, kenapa aku berada di sini"

dengan nada lantang roy berteriak sejadi-jadinya angkot yang seharusnya membawanya pulang ke rumah, malah membawanya ke kuburan, tiba-tiba saja wajah roy seketika basah ternyata hanya sedang bermimpi dan yang menyiramnya adalah ibunya sendiri

"ternyata aku sedang bermimpi"

"iya kamu bermimpi dan sangat berisik"

di raihnya arloji miliknya waktu menunjukkan pukul 05:00 subuh, bergegas roy bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi

"sepertinya itu adalah teguran untukku sebab akhir-akhir ini aku sudah jarang sholat lagi"

di raihnya gayung yang ada pada ember itu lalu berwudhu dan bersiap untuk sholat subuh

"tumben kamu sholat biasanya molor"

"iya bu' tadi kebangun, sekalian sholat saja"

dari kejadian itu roy mulai rajin sholat lagi, mimpi itu telah membuatnya takut dan tersadar.

TAMAT.

Selasa, 24 Maret 2020

Kembali Kering






"kembali kering"

Air menetes ujung benang 
basahi lantai kian menggenang 
tampak roman kembali mengenang

belum lagi kering 
sisa perjalanan semalam
mencuci noda enggan hilang 
memberi wangi hilang bau

menjemur harap kering sitak
mengisi kosong hingga penuh 
mulai langkah bukan keluh

tiba tampuk kubur nelangsa 
kembali pulang temui cerah

Bulukumba, 24-03-2020




Jumat, 27 September 2019

Untuk Indonesia



Untuk negeriku tercinta!




Ada yang bilang Indonesia itu adalah bangsa yang lemah, bukan! bukan bangsanya tapi pemimpin nya. Mereka yang memiliki kekuasaan untuk mengontrol negeri ini malah menjadikan kekuasaan sebagai alat penghasil uang, mereka menggali perut bumi, membakar hutan, mencemari lingkungan, mendirikan gedung-gedung pencakar langit, mendirikan pabrik-pabrik industri, layaknya mereka akan hidup dari semua itu, dan tanpa mereka sadari mereka telah merugikan banyak mahluk hidup, tanpa mereka sadari mereka telah melanggar undang-undang negara ini, tanpa mereka sadari mereka telah membunuh manusia yang telah memberi nya kekuasaan, tanpa mereka sadari, katanya!
    Mereka yang tampak gagah di poster-poster, menebar janji melalui kata-kata, ada yang bertuliskan, mari bangkit bersama saya, yang faktanya mereka-lah yang membuatnya terpuruk, ada juga yang bertuliskan, suara anda menentukan masa depan negeri ini, namun faktanya satu suara itu menjadi awal kehancuran, malah para pemimpin semakin semena-mena terhadap rakyat
negara ini semakin kesini semakin berevolusi menjadi negara demokrasi yang penuh drama, tidak ada yang betul-betul menepati janji yang telah mereka cipta
   Untuk negeriku tercinta dimana kini kami mengadu, pemimpin yang seharusnya tempat kami mengadu malah menjadi tempat yang paling menakutkan untuk kami berkeluh-kesah, negeri ini butuh sosok yang betul-betul mampu mendengarkan curahan hati kami,
Dan sekarang ibu Pertiwi kembali berduka atas meninggalnya kejujuran dan keadilan, mereka kembali membuat skenario untuk drama yang akan di tampilkan di depan para penonton yang yang matanya telah di tutup oleh kain, telinganya telah di tutup oleh kapas, mereka hanya duduk dan tidak menyaksikan drama yang tengah berlangsung.
    Di saat para  pahlawan bangsa tengah mengetahui ada yang ganjil, mereka bergerak atas nama rakyat, mereka membuka kain yang menutupi mata, mereka membuka kapas yang menutupi telinga, dan kami melihat drama yang di tampilkan tidak sesuai dengan skenario yang mereka buat.
Indonesia sedang tidak baik-baik saja, untuk negeriku tercinta Indonesia, kami sedang berusaha!

Sabtu, 07 September 2019

Menuju Borneo


        "Lima menit setelah kapal berlabuh"


Hari itu adalah hari keberangkatanku dari Celebes "Sulawesi" menuju Borneo "Kalimantan" semua barang kumasukkan kedalam daypack milikku, selepas magrib mobil pun tiba untuk menjemput, di antara gelapnya malam kala itu ada tangis yang bersembunyi pura-pura tegar dengan keberangkatan, nenek mencium pipi kiri dan kanan ku, aku mendengar isak tangis di antaranya, adik perempuanku menjamah tanganku dan menciumnya pun dengan adik laki-lakiku, selanjutnya aku memeluk ibuku tak jauh beda dengan nenek, ibuku juga bersuara tangis sesak dan pura-pura tegar, malam itu rasanya aku dan keluarga akan berpisah selamanya walaupun aku tahu bahwa jika umur panjang kita akan kembali bersua, bulan terimakasi malam itu aku terlihat kuat walau sebenarnya ada tangis yang terbelenggu, aku naik ke mobil hanya ada aku dan pak sopir, aku menoleh ke arah keluargaku aku menandai satu persatu wajah mereka, selamat tinggal pun tiba mobil berjalan membelah lorong ke arah jalan poros dan melaju di jalan raya, sampai jumpa lagi desaku.

   Mobil melaju ke arah yang lain, menjemput penumpang yang sudah menunggu di rumah masing-masing, satu persatu penumpang di jemput, tak jauh beda denganku, disana juga ada rasa haru akan kepergian keluarga yang mereka sayangi namun apa boleh buat di setiap pertemuan pasti selalu ada perpisahan, setelah semua penumpang di jemput, aku pun tertidur lelap pada pukul lima subuh aku tiba di kota Pare-Pare, matahari pagi telah sedari tadi menunggu kedatanganku, ada banyak bukit namun tidak terlalu tinggi.

   Pagi pun telah utuh, matahari kian meninggi di angkasa, aku melihat aktivitas manusia disana, ada ibu-ibu yang mengantarkan anaknya ke sekolah, ada pak polisi yang sedang berjaga, juga ada kakek-kakek yang sedang membaca koran dan minum kopi di teras rumahnya, pagi hari yah dimana semua aktivitas di mulai. Aku pun tiba di rumah pak sopir, selanjutnya aku bersiap mandi lalu makan, dan tidur sejenak dan sebangun aku dari tidur, sore pun tiba, aku dan penumpang lainnya di antar ke pelabuhan untuk selanjutnya menyebrang ku pulau Borneo atau Kalimantan, tiket sudah aku kantongi dengan mengucap "Bismillahi Rahmani Rahim" aku melangkahkan kaki ke atas kapal yang akan membawaku ke Borneo, setelah semua penumpang naik dan mendapatkan tempat tidurnya masing-masing, kapal pun berangkat dan tampak anak kecil di suruh oleh ABK kapal untuk melepas tali pengait kapal, jangkar di angkat, perlahan kapal berlayar sedikit demi sedikit pulau Sulawesi semakin buram dan akhirnya menghilang dari pandangan, yang ada hanya lautan lepas serta senja yang mengiringi keberangkatan kami semua, sungguh indah sore itu, angin membelai rambutku, perasaan yang sangat damai, kapal semakin melaju membelah ombak yang tampak ganas, matahari tenggelam aku pun masuk ke dalam kamar untuk makan malam lalu tidur, satu hari dua malam aku berlayar di tengah lautan, akhirnya aku pun tiba di pelabuhan Nunukan, buru bantu mulai berisik menawarkan tenaga mereka untuk mengangkut barang bawaan penumpang beruntungnya aku hanya membawa daypak, aku pun melangkah keluar dan menginjakkan kaki di pulau ini, pulau Kalimantan aku tiba, selang beberapa saat menunggu di pelabuhan akhirnya sanak keluarga datang menjemput dengan menggunakan mobil angkutan umum yang mereka sewa, mobil menggerus jalan raya yang sedikit berlubang setelah cukup lama berkendara di jalan aku pun akhirnya tiba di tempat bapak tinggal.

Tamat.

Rabu, 31 Juli 2019

Cerita Di Masa Kecil



CERITA DI MASA KECIL

Masa kanak-kanak ibarat bongkahan emas yang sangat berharga. Namun, setiap manusia harus menukar bongkahan emas itu dengan perjalanan menuju masa depan. Masa kecil tidak akan selamanya tinggal bersama kita. Lambat laun, kita tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berbeda, bahkan terkadang asing bagi diri sendiri.

Masa kanak-kanak adalah masa yang paling indah. Saat itu, kita belum mengenal kerasnya kehidupan. Pikiran kita hanya dipenuhi keinginan untuk bermain. Tidak ada cinta, tidak ada pacaran, tidak ada Facebook ataupun Instagram. Yang ada hanyalah belajar dan bermain. Begitulah polosnya dunia anak-anak.

Begitu pula dengan seorang bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Namanya Bopeng.


Pagi buta, emak membangunkanku untuk mandi dan bersiap berangkat ke sekolah. Setelah mandi, emak memakaikanku seragam yang rapi. Bajuku dimasukkan ke dalam celana, rambutku diolesi minyak kemiri lalu disisir ke samping hingga mengilap. Setelah itu, wajahku dipoles bedak bayi. Emak kemudian mengajakku berdiri di depan cermin.

"Anakku memang gagah."

Aku hanya tersenyum bangga mendengar pujian itu.

Sebelum berangkat, emak menyuapiku sepiring nasi goreng buatannya. Bagiku, nasi goreng buatan emak adalah yang paling enak di seluruh lorong tempat tinggalku.

Dengan perut kenyang dan pakaian rapi, aku diantar bapa' ke sekolah menggunakan motor Supra tua kesayangannya. Motor itu melaju pelan membelah udara pagi yang masih dingin. Di sepanjang perjalanan, pegunungan hijau selalu menemani pandanganku. Saat itu aku belum tahu bahwa pemandangan sederhana seperti itu kelak akan menjadi kenangan yang sangat mahal.

Sesampainya di gerbang sekolah, aku turun dari motor. Sebelum pergi, bapa' menyelipkan uang saku seribu rupiah ke dalam kantong bajuku. Jumlah yang terasa begitu besar bagi anak kecil sepertiku.

Aku berjalan menuju kelas satu. Dua orang temanku sudah datang lebih dulu.

Seperti biasa, pembicaraan kami tak jauh dari bermain. Namun pagi itu ada satu masalah yang membuat kami gelisah: PR Matematika belum kami kerjakan. Bukan karena malas, tetapi karena kami memang tidak mengerti cara menghitungnya. Teman yang biasanya membantu kami juga belum datang.

Karena guru belum masuk, kami pergi ke kantin belakang sekolah membeli jajanan. Tak lama kemudian, lonceng berbunyi. Kami berlari sekencang mungkin menuju kelas.

Semua murid sudah duduk rapi.

Guru masuk, ketua kelas memberi aba-aba hormat, lalu kami mengucapkan salam bersama-sama.

Tak lama kemudian, guru meminta semua PR dikumpulkan.

Selanjutnya kalian pasti sudah bisa menebaknya.

Aku dan dua temanku berdiri di depan kelas sebagai hukuman. Dengan satu kaki terangkat dan kedua tangan menyilang memegang telinga, kami hanya bisa menahan malu hingga jam istirahat berbunyi.

Setelah hukuman selesai, aku menggunakan sisa uang sakuku yang tinggal lima ratus rupiah untuk membeli minuman. Sisa waktu istirahat kuhabiskan bermain kelereng bersama teman-teman.

Jam pelajaran terakhir adalah pelajaran yang paling kusukai: menggambar.

Aku menggambar dua gunung dengan jalan membelah di tengahnya, persis seperti pemandangan di desaku.

Ketika lonceng pulang berbunyi, rasa kantuk dan lelah yang sejak pagi kurasakan seketika menghilang. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi anak SD selain mendengar suara lonceng pulang sekolah.


Aku dan teman-teman berjalan kaki pulang di bawah terik matahari. Sepatu kami jinjing agar tidak cepat rusak, sementara telapak kaki menahan panasnya jalan aspal.

Di tengah perjalanan, kami sering tergoda melihat buah-buahan milik orang. Diam-diam kami memetik beberapa buah. Begitu pemiliknya keluar, kami langsung berlari tunggang-langgang. Siapa pun yang terlambat berlari pasti akan tertangkap.

Sesampainya di rumah, aku melepas seragam, makan siang, lalu bersiap pergi mengaji.

Sebelum mengaji, aku mengisi sebuah jerigen dengan air lalu membawanya ke rumah guru mengajiku. Begitulah caraku membantu beliau sebagai ungkapan terima kasih atas ilmu yang diberikan.

Setelah mengaji selesai, petualangan kami yang sesungguhnya baru dimulai.

Aku dan teman-teman pergi berenang di sungai. Setelah puas bermain air, kami mencabut ubi milik orang untuk dibakar bersama.

Kenakalan kami memang luar biasa, tetapi begitulah dunia anak-anak.

Ketika matahari mulai condong ke barat, kami tahu saatnya pulang. Mata kami merah karena terlalu lama berenang.

"Merah tidak mataku?"

Pertanyaan itu selalu kami lontarkan satu sama lain sebelum pulang ke rumah.

Dari kejauhan terdengar suara emak memanggil.

"Bopeng... pulang!"

Aku pun berlari sekencang mungkin.

Namun usahaku sia-sia.

Sesampainya di rumah, bapa' sudah mengetahui bahwa aku baru saja berenang di sungai. Aku dimarahi bahkan dipukul, sementara emak terus mengomel. Aku hanya bisa menangis.

Malam harinya aku belajar di ruang tamu menggunakan buku pinjaman dari perpustakaan sekolah. Tanpa sadar aku tertidur.

Dalam keadaan setengah sadar, kurasakan seseorang mengangkat tubuhku.

Itu bapa'.

Beliau menggendongku menuju tempat tidur, menyelimutiku, lalu mematikan lampu.


Kini aku telah dewasa.

Sering kali aku membantah bapa' dan membuat emak bersedih. Baru sekarang aku menyadari bahwa di balik setiap omelan emak dan setiap kemarahan bapa', tersimpan kasih sayang yang begitu besar.

Yang paling kuingat bukan pukulan bapa' ketika aku pulang dari sungai, melainkan pelukannya saat menggendongku ke tempat tidur.

Mungkin begitulah cara orang tua mencintai anaknya.

Dan kini, yang tersisa hanyalah kenangan tentang masa kecil yang tak akan pernah bisa kujalani untuk kedua kalinya.

— TAMAT —

Minggu, 27 Januari 2019

Kopi Itu

"KOPI"







K-enikmatan
O-ral
P-emersatu
I-nsan

    Kopi berasal dari bahasa Yunani kuno KO yang berarti (bubuk) dan Pi yang berarti (hitam)
jadi kopi adalah (bubuk hitam), hahahahahah bukan seperti itu wahai para SPY
saya sendiri mengarang-ngarang bahasa Yunani kuno barusan agar tidak terlalu tegang membaca tulisan ini, sebab  kopi tidak memberi ketegangan bagi yang meminumnya melainkan memberi ketenangan.

    Yah begitulah saya mendefinisikan secangkir kopi, (kenikmatan) yang selalu ada untuk kita rasakan, (oral) melalui mulut lalu berpencar ke otak dan hati, (pemersatu) semua kalangan baik tua maupun muda, (insan) menjadi bagian dari kopi itu sendiri dan berteman dengannya.
    Saya bangga hidup di negara Indonesia, dimana tanaman kopi melimpah ruah walau awal mula kedatangan kopi di Indonesia jika ingin di bahas begitu sangat menyedihkan, petani kopi kerja rodi (kerja paksa) oleh belanda, bekerja tanpa imbalan apa-apa dan sekarang kita hanya tinggal duduk manis di jendela kamar lalu menikmati secangkir kopi, kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada pendahulu kita karena tanpa mereka kita tidak mungkin bisa meminum kopi senikmat ini hari ini.
    Kopi juga salah satu bagian dari ke-seksian Indonesia, memikat bangsa-bangsa lain untuk masuk dan mengambil alih kekuasaan.
kopi di dunia merupakan minuman kedua yang paling sering di minum oleh manusia setelah air putih
    Di dalam secangkir kopi sendiri terdapat banyak manfaat bagi tubuh, terutama orang yang memiliki berat badan yang bisa di bilang gendut, sangat cocok untuk meminum kopi, karena meminum kopi dapat menurunkan berat badan seseorang, dan mungkin setelah anda(wanita) membaca ini, akan langsung meminum dan mencintai kopi, manfaat lain yang di timbulkan kopi adalah dapat memicu tekanan darah, sangat cocok untuk orang yang kurang darah, namun maaf bagi yang darah tinggi sebaiknya mengontrol diri anda agar tidak mengikuti nafsu anda untuk meminum kopi, karena jika tidak mungkin, melihat secangkir kopi pun tidak akan lagi, sebab anda sudah di alam lain. Dan lagi kopi juga membantu kerja otak untuk berfikir lebih intensif dan lebih sadar lagi, saya sendiri merasakan hal itu, setelah saya meminum secangkir kopi saya merasa lebih tenang untuk memirkan hal-hal yang awalnya otak saya tidak mampu untuk mencapainya.
     Pertama kali saya mengenal kopi adalah saat saya berumur kurang lebih 8-9 tahun, dimana saya di ajak nenek untuk pergi memanen kopi di kebun
saya jarang membeli kopi karena lebih menyukai kopi olahan nenek sendiri, rasanya juga lebih alami dan aromanya lebih nikmat, pertama saya merasakan kopi biasa-biasa saja, yang terlintas di otak saya saat itu, adalah "ini minuman apa, setiap hari nenek saya membuatnya dengan secangkir full, rasanya juga pahit, saya membenci kopi saat itu, dan seiring, sejalannya waktu, saya tumbuh menjadi anak remaja, mulai berfikir dan menanggapi kopi, meminum secara wajar hingga akhirnya jatuh cinta setelah menghina, saya akui mungkin saya munafik pada waktu kecil sebab menolak kopi yang di dalamnya tersimpan sejuta rasa yang saya tidak temui di minuman lain.
    Kopi juga sudah menjadi sahabat saya, ketika saya memiliki masalah baik itu ringan maupun berat, saya selalu membuat secangkir kopi, dan ketika saya mulai menghirup dan menyeruput kopi, saya merasakan ketenangan, saya kembali menemukan definisi lain tentang kopi yaitu, "sahabat bisu yang selalu mengerti masalah yang kita hadapi".
Kopi juga sudah tidak bisa hilang dari perjalanan saya, setiap saya pergi berpetualang kopi olahan nenek, selalu saya bawa karena saya tidak pernah tahu kapan saya ingin minum kopi lagi dan lagi
dan jika ada pertanyaan " kenapa anda suka meminum kopi" mungkin saya akan menjawab dengan seperti ini "jawabannya ada pada secangkir kopi"
bahagialah sebab kebahagiaan tidak selalu harus mahal dan mewah, kebahagiaan selalu ada untuk kita, selama kita kreatif untuk menciptakannya. Mari ngopi

           - TAMAT-