Laci Aksara
Minggu, 05 Desember 2021
Insomnia.
Minggu, 11 April 2021
Sayap Angsa
Pagi yang masih mengantuk itu terbangun oleh suara angsa-angsa pak Somad yang berbunyi bergantian seolah sedang mengabarkan kepada tuannya bahwa mereka sedang dalam bahaya, tidak lain Roni yang telah membuat kebisingan di pagi buta itu, anak yang bermimpi dapat terbang seperti burung itu tengah mencabuti bulu-bulu angsa milik pak Somad.
Lihatlah Denis, ujang sebentar lagi kalian akan menganga seperti buaya yang sedang kelaparan lantaran melihatku dapat terbang di angkasa, bulu-bulu angsa ini akan ku rangkai menjadi sayap dan kalian tidak akan mengataiku orang gila lagi, kraaaakk....kraaaak suara angsa-angsa itu semakin berisik, hingga membangunkan pak Somad yang tengah tertidur pulas.
"Ada apa dengan angsa-angsa itu kenapa sangat berisik"
pak Somad berlari keluar dengan setengah sadar, dengan sarung yang melingkar di pinggangnya, dan senter tua di tangan kanannya, mendengar suara pak Somad yang berteriak Roni bergegas lari dari kandang angsa itu sambil memegang bulu-bulu angsa yang di dapatnya.
Woi siapa disana, sambil mengarahkan cahaya senter miliknya, pak Somad mendekati kandang miliknya lalu masuk ke dalam, Roni tidak lagi berada di dalam sana, pak Somad mendapati angsa-angsanya dengan bulu sayap yang telah di cabuti, pak Somad benar-benar marah melihatnya.
"Untung saja aku bergegas keluar tadi kalau tidak pak Somad bisa memukuliku"
Roni memang terkenal sebagai anak yang nakal dan pemberani dia mampu melakukan hal-hal yang cukup berbahaya jika dia menginginkannya. Roni pernah membaca sebuah buku tentang manusia yang dapat terbang akhirnya dia terinspirasi dari buku itu, dan ini bukan pertama kalinya Roni melakukan percobaan seperti itu, Roni beberapa kali mencoba terbang dengan berbagai cara salah satunya dengan daun pisang yang dia lilitkan di kedua tangannya lalu melompat dari atap belakang rumahnya, hasilnya Roni terbang beberapa detik lalu akhirnya tergeletak di tanah dengan tulang kakinya yang patah, ibunya sering memarahi Roni namun Roni tidak pernah ingin berhenti untuk mewujudkan mimpinya itu.
Matahari lalu kian meninggi,
"Kalau aku tahu siapa orang itu Bu aku akan memberikannya benjolan besar di kedua kelopak matanya bagaimana tidak sayap angsa-angsa ku di cabutinya hingga tersisa sedikit"
"Sudah pak, sabar ini ujian beberapa bulan lagi mungkin sayap angsa-angsa bapak akan tumbuh kembali"
"iya Bu dan mungkin beberapa bulan lagi angsa-angsa itu akan mati karena kesakitan.
"Sudah pak ini kopinya di minum dulu takut dingin"
"Pak Somad memanas pagi itu lantaran tidak mengetahui siapa pelakunya, dan agaknya Bu Susi tidak usah risau jika kopi suaminya menjadi dingin sebab suaminya tengah memanas"
di satu sisi Roni merangkai bulu-bulu angsa yang di dapatnya hingga membentuk sebuah sayap besar
Akhirnya jadi juga sebentar lagi dunia akan melihat seorang anak kecil yang dapat terbang di angkasa, Denis dan ujang benar-benar akan takjub melihatku, mereka berdua akan menarik ucapan mereka waktu itu, Roni keluar melalui pintu belakang rumahnya, mengendap-endap nyaris tidak terdengar, jika ibunya tahu Roni akan kena marah lagi, setelah cukup jauh dari rumahnya, Roni bergegas memacu kaki-kaki kecilnya menyeruak semak-semak lalu muncul di jalan poros desa, di jalan Roni bertemu Denis dan ujang, dari jarak delapan meter tampak Denis dan ujang saling berbisik.
Lihat Jang, si Roni si anak ayam yang bermimpi terbang seperti burung hahahah
iya den, dia masih saja tidak jerah setelah beberapa kali hampir mati karena mimpi gilanya itu dan sekarang lihat dia membawa apa, dia membawa sayap yang terbuat dari bulu angsa Jang hahaha.
Kemudian Roni, Denis dan ujang berdiri saling berhadapan, lihat siapa ini Jang manusia burung dasar orang gila mana mungkin kamu bisa terbang.
Roni menyambar percakapan mereka berdua, lihat saja nanti mulut kalian berdua akan ku beli setelah aku berhasil terbang, kalian berdua akan ku ludahi dari langit, kepala kalian berdua akan basah, lalu kalian berlari sambil menangis dan bersembunyi di rumah kalian masing-masing.
Denis dan ujang berjalan meninggalkan Roni, mimpi saja kau terus roni hahahaha dasar orang gila.
sambil berteriak roni berkata kepada mereka berdua, kalian berdua bersiaplah aku akan datang, tunggu saja.
Roni berjalan menuju tower tua di pinggir desa sambil membawa sayap buatannya lalu Roni memanjat tower itu hingga ke puncak lalu memakai sayap buatannya.
Ini dia Roni setelah melompat dari sini dunia akan takjub padamu.
Roni menutup matanya, angin mengelus badan mungilnya, serta mengacak-acak rambutnya, lalu melompat ketika ia membuka matanya ia berhasil terbang, berteriak sambil mengelilingi desanya, menyapa orang-orang desa, dan tidak lupa janjinya kepada Denis dan ujang, Roni memperlihatkan bahwa dirinya berhasil terbang, Denis dan ujang benar-benar menganga seperti buaya yang sedang kelaparan, lalu Roni mengejar mereka berdua, meludahi mereka berdua, membuatnya menangis, mengusirnya hingga masuk ke dalam rumah masing-masing, Roni benar-benar gembira sebab ia berhasil terbang, hingga sebelum beberapa saat kemudian tubuhnya di temukan kaku di bawah tower tua itu, Roni tidak benar-benar terbang, setelah menutup matanya dan melompat ia akhirnya terjun bebas ke tanah, lalu seketika mati.
Rabu, 26 Agustus 2020
Bebas.
Kamis, 25 Juni 2020
Tuhan Dimana?
Jumat, 19 Juni 2020
Mimpi Buruk
TAMAT.
Selasa, 24 Maret 2020
Kembali Kering
Jumat, 27 September 2019
Untuk Indonesia
Ada yang bilang Indonesia itu adalah bangsa yang lemah, bukan! bukan bangsanya tapi pemimpin nya. Mereka yang memiliki kekuasaan untuk mengontrol negeri ini malah menjadikan kekuasaan sebagai alat penghasil uang, mereka menggali perut bumi, membakar hutan, mencemari lingkungan, mendirikan gedung-gedung pencakar langit, mendirikan pabrik-pabrik industri, layaknya mereka akan hidup dari semua itu, dan tanpa mereka sadari mereka telah merugikan banyak mahluk hidup, tanpa mereka sadari mereka telah melanggar undang-undang negara ini, tanpa mereka sadari mereka telah membunuh manusia yang telah memberi nya kekuasaan, tanpa mereka sadari, katanya!
Mereka yang tampak gagah di poster-poster, menebar janji melalui kata-kata, ada yang bertuliskan, mari bangkit bersama saya, yang faktanya mereka-lah yang membuatnya terpuruk, ada juga yang bertuliskan, suara anda menentukan masa depan negeri ini, namun faktanya satu suara itu menjadi awal kehancuran, malah para pemimpin semakin semena-mena terhadap rakyat
negara ini semakin kesini semakin berevolusi menjadi negara demokrasi yang penuh drama, tidak ada yang betul-betul menepati janji yang telah mereka cipta
Untuk negeriku tercinta dimana kini kami mengadu, pemimpin yang seharusnya tempat kami mengadu malah menjadi tempat yang paling menakutkan untuk kami berkeluh-kesah, negeri ini butuh sosok yang betul-betul mampu mendengarkan curahan hati kami,
Dan sekarang ibu Pertiwi kembali berduka atas meninggalnya kejujuran dan keadilan, mereka kembali membuat skenario untuk drama yang akan di tampilkan di depan para penonton yang yang matanya telah di tutup oleh kain, telinganya telah di tutup oleh kapas, mereka hanya duduk dan tidak menyaksikan drama yang tengah berlangsung.
Di saat para pahlawan bangsa tengah mengetahui ada yang ganjil, mereka bergerak atas nama rakyat, mereka membuka kain yang menutupi mata, mereka membuka kapas yang menutupi telinga, dan kami melihat drama yang di tampilkan tidak sesuai dengan skenario yang mereka buat.
Indonesia sedang tidak baik-baik saja, untuk negeriku tercinta Indonesia, kami sedang berusaha!
Sabtu, 07 September 2019
Menuju Borneo
Rabu, 31 Juli 2019
Cerita Di Masa Kecil
CERITA DI MASA KECIL
Masa kanak-kanak ibarat bongkahan emas yang sangat berharga. Namun, setiap manusia harus menukar bongkahan emas itu dengan perjalanan menuju masa depan. Masa kecil tidak akan selamanya tinggal bersama kita. Lambat laun, kita tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berbeda, bahkan terkadang asing bagi diri sendiri.
Masa kanak-kanak adalah masa yang paling indah. Saat itu, kita belum mengenal kerasnya kehidupan. Pikiran kita hanya dipenuhi keinginan untuk bermain. Tidak ada cinta, tidak ada pacaran, tidak ada Facebook ataupun Instagram. Yang ada hanyalah belajar dan bermain. Begitulah polosnya dunia anak-anak.
Begitu pula dengan seorang bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Namanya Bopeng.
Pagi buta, emak membangunkanku untuk mandi dan bersiap berangkat ke sekolah. Setelah mandi, emak memakaikanku seragam yang rapi. Bajuku dimasukkan ke dalam celana, rambutku diolesi minyak kemiri lalu disisir ke samping hingga mengilap. Setelah itu, wajahku dipoles bedak bayi. Emak kemudian mengajakku berdiri di depan cermin.
"Anakku memang gagah."
Aku hanya tersenyum bangga mendengar pujian itu.
Sebelum berangkat, emak menyuapiku sepiring nasi goreng buatannya. Bagiku, nasi goreng buatan emak adalah yang paling enak di seluruh lorong tempat tinggalku.
Dengan perut kenyang dan pakaian rapi, aku diantar bapa' ke sekolah menggunakan motor Supra tua kesayangannya. Motor itu melaju pelan membelah udara pagi yang masih dingin. Di sepanjang perjalanan, pegunungan hijau selalu menemani pandanganku. Saat itu aku belum tahu bahwa pemandangan sederhana seperti itu kelak akan menjadi kenangan yang sangat mahal.
Sesampainya di gerbang sekolah, aku turun dari motor. Sebelum pergi, bapa' menyelipkan uang saku seribu rupiah ke dalam kantong bajuku. Jumlah yang terasa begitu besar bagi anak kecil sepertiku.
Aku berjalan menuju kelas satu. Dua orang temanku sudah datang lebih dulu.
Seperti biasa, pembicaraan kami tak jauh dari bermain. Namun pagi itu ada satu masalah yang membuat kami gelisah: PR Matematika belum kami kerjakan. Bukan karena malas, tetapi karena kami memang tidak mengerti cara menghitungnya. Teman yang biasanya membantu kami juga belum datang.
Karena guru belum masuk, kami pergi ke kantin belakang sekolah membeli jajanan. Tak lama kemudian, lonceng berbunyi. Kami berlari sekencang mungkin menuju kelas.
Semua murid sudah duduk rapi.
Guru masuk, ketua kelas memberi aba-aba hormat, lalu kami mengucapkan salam bersama-sama.
Tak lama kemudian, guru meminta semua PR dikumpulkan.
Selanjutnya kalian pasti sudah bisa menebaknya.
Aku dan dua temanku berdiri di depan kelas sebagai hukuman. Dengan satu kaki terangkat dan kedua tangan menyilang memegang telinga, kami hanya bisa menahan malu hingga jam istirahat berbunyi.
Setelah hukuman selesai, aku menggunakan sisa uang sakuku yang tinggal lima ratus rupiah untuk membeli minuman. Sisa waktu istirahat kuhabiskan bermain kelereng bersama teman-teman.
Jam pelajaran terakhir adalah pelajaran yang paling kusukai: menggambar.
Aku menggambar dua gunung dengan jalan membelah di tengahnya, persis seperti pemandangan di desaku.
Ketika lonceng pulang berbunyi, rasa kantuk dan lelah yang sejak pagi kurasakan seketika menghilang. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi anak SD selain mendengar suara lonceng pulang sekolah.
Aku dan teman-teman berjalan kaki pulang di bawah terik matahari. Sepatu kami jinjing agar tidak cepat rusak, sementara telapak kaki menahan panasnya jalan aspal.
Di tengah perjalanan, kami sering tergoda melihat buah-buahan milik orang. Diam-diam kami memetik beberapa buah. Begitu pemiliknya keluar, kami langsung berlari tunggang-langgang. Siapa pun yang terlambat berlari pasti akan tertangkap.
Sesampainya di rumah, aku melepas seragam, makan siang, lalu bersiap pergi mengaji.
Sebelum mengaji, aku mengisi sebuah jerigen dengan air lalu membawanya ke rumah guru mengajiku. Begitulah caraku membantu beliau sebagai ungkapan terima kasih atas ilmu yang diberikan.
Setelah mengaji selesai, petualangan kami yang sesungguhnya baru dimulai.
Aku dan teman-teman pergi berenang di sungai. Setelah puas bermain air, kami mencabut ubi milik orang untuk dibakar bersama.
Kenakalan kami memang luar biasa, tetapi begitulah dunia anak-anak.
Ketika matahari mulai condong ke barat, kami tahu saatnya pulang. Mata kami merah karena terlalu lama berenang.
"Merah tidak mataku?"
Pertanyaan itu selalu kami lontarkan satu sama lain sebelum pulang ke rumah.
Dari kejauhan terdengar suara emak memanggil.
"Bopeng... pulang!"
Aku pun berlari sekencang mungkin.
Namun usahaku sia-sia.
Sesampainya di rumah, bapa' sudah mengetahui bahwa aku baru saja berenang di sungai. Aku dimarahi bahkan dipukul, sementara emak terus mengomel. Aku hanya bisa menangis.
Malam harinya aku belajar di ruang tamu menggunakan buku pinjaman dari perpustakaan sekolah. Tanpa sadar aku tertidur.
Dalam keadaan setengah sadar, kurasakan seseorang mengangkat tubuhku.
Itu bapa'.
Beliau menggendongku menuju tempat tidur, menyelimutiku, lalu mematikan lampu.
Kini aku telah dewasa.
Sering kali aku membantah bapa' dan membuat emak bersedih. Baru sekarang aku menyadari bahwa di balik setiap omelan emak dan setiap kemarahan bapa', tersimpan kasih sayang yang begitu besar.
Yang paling kuingat bukan pukulan bapa' ketika aku pulang dari sungai, melainkan pelukannya saat menggendongku ke tempat tidur.
Mungkin begitulah cara orang tua mencintai anaknya.
Dan kini, yang tersisa hanyalah kenangan tentang masa kecil yang tak akan pernah bisa kujalani untuk kedua kalinya.
— TAMAT —
Minggu, 27 Januari 2019
Kopi Itu
K-enikmatan
O-ral
P-emersatu
I-nsan
Kopi berasal dari bahasa Yunani kuno KO yang berarti (bubuk) dan Pi yang berarti (hitam)
jadi kopi adalah (bubuk hitam), hahahahahah bukan seperti itu wahai para SPY
saya sendiri mengarang-ngarang bahasa Yunani kuno barusan agar tidak terlalu tegang membaca tulisan ini, sebab kopi tidak memberi ketegangan bagi yang meminumnya melainkan memberi ketenangan.
Yah begitulah saya mendefinisikan secangkir kopi, (kenikmatan) yang selalu ada untuk kita rasakan, (oral) melalui mulut lalu berpencar ke otak dan hati, (pemersatu) semua kalangan baik tua maupun muda, (insan) menjadi bagian dari kopi itu sendiri dan berteman dengannya.
Saya bangga hidup di negara Indonesia, dimana tanaman kopi melimpah ruah walau awal mula kedatangan kopi di Indonesia jika ingin di bahas begitu sangat menyedihkan, petani kopi kerja rodi (kerja paksa) oleh belanda, bekerja tanpa imbalan apa-apa dan sekarang kita hanya tinggal duduk manis di jendela kamar lalu menikmati secangkir kopi, kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada pendahulu kita karena tanpa mereka kita tidak mungkin bisa meminum kopi senikmat ini hari ini.
Kopi juga salah satu bagian dari ke-seksian Indonesia, memikat bangsa-bangsa lain untuk masuk dan mengambil alih kekuasaan.
kopi di dunia merupakan minuman kedua yang paling sering di minum oleh manusia setelah air putih
Di dalam secangkir kopi sendiri terdapat banyak manfaat bagi tubuh, terutama orang yang memiliki berat badan yang bisa di bilang gendut, sangat cocok untuk meminum kopi, karena meminum kopi dapat menurunkan berat badan seseorang, dan mungkin setelah anda(wanita) membaca ini, akan langsung meminum dan mencintai kopi, manfaat lain yang di timbulkan kopi adalah dapat memicu tekanan darah, sangat cocok untuk orang yang kurang darah, namun maaf bagi yang darah tinggi sebaiknya mengontrol diri anda agar tidak mengikuti nafsu anda untuk meminum kopi, karena jika tidak mungkin, melihat secangkir kopi pun tidak akan lagi, sebab anda sudah di alam lain. Dan lagi kopi juga membantu kerja otak untuk berfikir lebih intensif dan lebih sadar lagi, saya sendiri merasakan hal itu, setelah saya meminum secangkir kopi saya merasa lebih tenang untuk memirkan hal-hal yang awalnya otak saya tidak mampu untuk mencapainya.
Pertama kali saya mengenal kopi adalah saat saya berumur kurang lebih 8-9 tahun, dimana saya di ajak nenek untuk pergi memanen kopi di kebun
saya jarang membeli kopi karena lebih menyukai kopi olahan nenek sendiri, rasanya juga lebih alami dan aromanya lebih nikmat, pertama saya merasakan kopi biasa-biasa saja, yang terlintas di otak saya saat itu, adalah "ini minuman apa, setiap hari nenek saya membuatnya dengan secangkir full, rasanya juga pahit, saya membenci kopi saat itu, dan seiring, sejalannya waktu, saya tumbuh menjadi anak remaja, mulai berfikir dan menanggapi kopi, meminum secara wajar hingga akhirnya jatuh cinta setelah menghina, saya akui mungkin saya munafik pada waktu kecil sebab menolak kopi yang di dalamnya tersimpan sejuta rasa yang saya tidak temui di minuman lain.
Kopi juga sudah menjadi sahabat saya, ketika saya memiliki masalah baik itu ringan maupun berat, saya selalu membuat secangkir kopi, dan ketika saya mulai menghirup dan menyeruput kopi, saya merasakan ketenangan, saya kembali menemukan definisi lain tentang kopi yaitu, "sahabat bisu yang selalu mengerti masalah yang kita hadapi".
Kopi juga sudah tidak bisa hilang dari perjalanan saya, setiap saya pergi berpetualang kopi olahan nenek, selalu saya bawa karena saya tidak pernah tahu kapan saya ingin minum kopi lagi dan lagi
dan jika ada pertanyaan " kenapa anda suka meminum kopi" mungkin saya akan menjawab dengan seperti ini "jawabannya ada pada secangkir kopi"
bahagialah sebab kebahagiaan tidak selalu harus mahal dan mewah, kebahagiaan selalu ada untuk kita, selama kita kreatif untuk menciptakannya. Mari ngopi
- TAMAT-







