Kamis, 25 Juni 2020

Tuhan Dimana?

    
    Tidak ada yang tidak mungkin kecuali menjadi tuhan, mungkin sebagian orang atau seluruhnya membenarkan hal itu, namun segelintir orang berkata lain. Seorang pemuda tengah berjalan menyusuri gang kota, kumuh, dan kotor di temuinya satu keluarga bapak, ibu dan anak kecil, mereka semua kelaparan, pemuda itu lalu bergegas menuju supermarket untuk membeli sembako untuk keluarga itu, beras, mie instan, roti, susu, telur, dan kebutuhan pokok lainnya, serta membeli makanan siap santap sebanyak lima porsi untuk keluarga itu, lalu kembali ke tempat keluarga kecil itu  dengan sekantong makanan di tangan kiri dan kanannya, tampak wajah keluarga itu benar-benar membuat siapapun manusia yang melihatnya merasa iba kecuali iblis mungkin, mereka semua bersujud di hadapan pemuda itu, menangis, bersyukur atas apa yang di berikannya, lalu anak itu bertanya kepada bapak nya,
"bapak apakah dia tuhan?"
"iya nak dia tuhan, tuhan yang nyata" 
pemuda itu membenarkan, tidak adik kecil, juga bapak, saya hanya manusia biasa saya hanya sedang berjalan-jalan saja, dan tidak sengaja melihat kalian semua yang tengah tertidur di tempat ini.
tidak nak kau adalah tuhan yang nyata untuk kami, kami sudah tidak makan sejak tiga hari yang lalu, dan mungkin saja besok kami semua akan mati karena kelaparan, namun engkau datang, kau tuhan untuk kami, kau memberi kehidupan untuk kami semua nak, dengan wajah memelas tampak air mata bercucuran, bapak itu bersujud dan mencium kaki pemuda itu, pun dengan istri dan anak-anaknya, kembali pemuda itu berkata, sambil mengangkat badan bapak itu, sungguh saya bukan tuhan, saya hanya manusia biasa sama seperti kalian, tuhan sebenarnya ada di dalam hati kita, bapak itu memotong, iya dan mungkin juga tuhan itu sekarang menyamar di hadapan kami, pemuda itu lalu berkata, saya bukan tuhan dan tidak pantas di tuhankan, saya hanya ingin berbuat baik supaya tuhan yang sebenarnya melihat saya, dan mungkin suatu hari saya akan bernasib sama seperti bapak, saya hanyalah utusan yang di utus Tuhan untuk bertemu dengan bapak, terimakasih nak, terimakasih, semoga tuhan yang kau maksud senantiasa memberikan kebahagiaan untuk dirimu, pemuda itu mengangguk dan meminta diri untuk pamit, lalu berjalan meninggalkan keluarga itu, semakin jauh ke arah Utara kota, terdengar suara bapak itu dari kejauhan, terimakasih tuhan.
pemuda itu tersenyum, dalam hati berkata sungguh miris negeriku ini bahkan masih ada orang yang tidak tahu makna dari Tuhan itu apa.

tamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar