Minggu, 11 April 2021

Sayap Angsa


Pagi yang masih mengantuk itu terbangun oleh suara angsa-angsa pak Somad yang berbunyi bergantian seolah sedang mengabarkan kepada tuannya bahwa mereka sedang dalam bahaya, tidak lain Roni yang telah membuat kebisingan di pagi buta itu, anak yang bermimpi dapat terbang seperti burung itu tengah mencabuti bulu-bulu angsa milik pak Somad. 

Lihatlah Denis, ujang sebentar lagi kalian akan menganga seperti buaya yang sedang kelaparan lantaran melihatku dapat terbang di angkasa, bulu-bulu angsa ini akan ku rangkai menjadi sayap dan kalian tidak akan mengataiku orang gila lagi, kraaaakk....kraaaak suara angsa-angsa itu semakin berisik, hingga membangunkan pak Somad yang tengah tertidur pulas.

"Ada apa dengan angsa-angsa itu kenapa sangat berisik"

pak Somad berlari keluar dengan setengah sadar, dengan sarung yang melingkar di pinggangnya, dan senter tua di tangan kanannya, mendengar suara pak Somad yang berteriak Roni bergegas lari dari kandang angsa itu sambil memegang bulu-bulu angsa yang di dapatnya. 

Woi siapa disana, sambil mengarahkan cahaya senter miliknya, pak Somad mendekati kandang miliknya lalu masuk ke dalam, Roni tidak lagi berada di dalam sana, pak Somad mendapati angsa-angsanya dengan bulu sayap yang telah di cabuti, pak Somad benar-benar marah melihatnya.

"Untung saja aku bergegas keluar tadi kalau tidak pak Somad bisa memukuliku"

Roni memang terkenal sebagai anak yang nakal dan pemberani dia mampu melakukan hal-hal yang cukup berbahaya jika dia menginginkannya. Roni pernah membaca sebuah buku tentang manusia yang dapat terbang akhirnya dia terinspirasi dari buku itu, dan ini bukan pertama kalinya Roni melakukan percobaan seperti itu, Roni beberapa kali mencoba terbang dengan berbagai cara salah satunya dengan daun pisang yang dia lilitkan di kedua tangannya lalu melompat dari atap belakang rumahnya, hasilnya Roni terbang beberapa detik lalu akhirnya tergeletak di tanah dengan tulang kakinya yang patah, ibunya sering memarahi Roni namun Roni tidak pernah ingin berhenti untuk mewujudkan mimpinya itu.

Matahari lalu kian meninggi,

"Kalau aku tahu siapa orang itu Bu aku akan memberikannya benjolan besar di kedua kelopak matanya bagaimana tidak sayap angsa-angsa ku di cabutinya hingga tersisa sedikit"

"Sudah pak, sabar ini ujian beberapa bulan lagi mungkin sayap angsa-angsa bapak akan tumbuh kembali"

"iya Bu dan mungkin beberapa bulan lagi angsa-angsa itu akan mati karena kesakitan.

"Sudah pak ini kopinya di minum dulu takut dingin"

"Pak Somad memanas pagi itu lantaran tidak mengetahui siapa pelakunya, dan agaknya Bu Susi tidak usah risau jika kopi suaminya menjadi dingin sebab suaminya tengah memanas"

di satu sisi Roni merangkai bulu-bulu angsa yang di dapatnya hingga membentuk sebuah sayap besar

Akhirnya jadi juga sebentar lagi dunia akan melihat seorang anak kecil yang dapat terbang di angkasa, Denis dan ujang benar-benar akan takjub melihatku, mereka berdua akan menarik ucapan mereka waktu itu, Roni keluar melalui pintu belakang rumahnya, mengendap-endap nyaris tidak terdengar, jika ibunya tahu Roni akan kena marah lagi, setelah cukup jauh dari rumahnya, Roni bergegas memacu kaki-kaki kecilnya menyeruak semak-semak lalu muncul di jalan poros desa, di jalan Roni bertemu Denis dan ujang, dari jarak delapan meter tampak Denis dan ujang saling berbisik.

Lihat Jang, si Roni si anak ayam yang bermimpi terbang seperti burung hahahah

iya den, dia masih saja tidak jerah setelah beberapa kali hampir mati karena mimpi gilanya itu dan sekarang lihat dia membawa apa, dia membawa sayap yang terbuat dari bulu angsa Jang hahaha.

Kemudian Roni, Denis dan ujang berdiri saling berhadapan, lihat siapa ini Jang manusia burung dasar orang gila mana mungkin kamu bisa terbang.

Roni menyambar percakapan mereka berdua, lihat saja nanti mulut kalian berdua akan ku beli setelah aku berhasil terbang, kalian berdua akan ku ludahi dari langit, kepala kalian berdua akan basah, lalu kalian berlari sambil menangis dan bersembunyi di rumah kalian masing-masing.

Denis dan ujang berjalan meninggalkan Roni, mimpi saja kau terus roni hahahaha dasar orang gila.

sambil berteriak roni berkata kepada mereka berdua, kalian berdua bersiaplah aku akan datang, tunggu saja.

Roni berjalan menuju tower tua di pinggir desa sambil membawa sayap buatannya lalu Roni memanjat tower itu hingga ke puncak lalu memakai sayap buatannya.

Ini dia Roni setelah melompat dari sini dunia akan takjub padamu.

Roni menutup matanya, angin mengelus badan mungilnya, serta mengacak-acak rambutnya, lalu melompat ketika ia membuka matanya ia berhasil terbang, berteriak sambil mengelilingi desanya, menyapa orang-orang desa, dan tidak lupa janjinya kepada Denis dan ujang, Roni memperlihatkan bahwa dirinya berhasil terbang, Denis dan ujang benar-benar menganga seperti buaya yang sedang kelaparan, lalu Roni mengejar mereka berdua, meludahi mereka berdua, membuatnya menangis, mengusirnya hingga masuk ke dalam rumah masing-masing, Roni benar-benar gembira sebab ia berhasil terbang, hingga sebelum beberapa saat kemudian tubuhnya di temukan kaku di bawah tower tua itu, Roni tidak benar-benar terbang, setelah menutup matanya dan melompat ia akhirnya terjun bebas ke tanah, lalu seketika mati.

Rabu, 26 Agustus 2020

Bebas.








Berbicara tentang bebas semua manusia pasti ingin bebas.
bebas dari segala hal yang bersifat menahan dan bebas sendiri jika di artikan ke dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) adalah lepas sama sekali, tidak terhalang, dapat bergerak, berbicara, dan leluasa dalam segala hal.

Kurang lebih seperti itulah makna kata bebas dalam penjelasan secara umum, namun secara pribadi terdapat orang-orang yang beranggapan lain mengenai kata bebas, ada yang mengartikan bebas jika masih hidup dan bernafas, ada juga yang berkata bebas itu jika kita telah mati, dan ada juga yang beranggapan bebas itu bisa berjalan dan berlari, dan ada juga yang berkata bebas itu bisa pergi kemanapun, makan apapun, dan membeli apapun. Dan masih banyak jenis bebas-bebas yang lainnya.

Dan bebas menurut saya pribadi itu tidak ada dan mungkin tidak akan pernah ada, mengapa demikian? Sebab bebas menurut saya itu hanya sebatas kata dan tidak lebih, terkadang orang berkata "aku adalah manusia paling bebas yang ada di muka bumi" sebab memiliki segala sesuatu yang di inginkan meliputi harta, jabatan dan lainnya. Sampai melupakan makna dari kata bebas itu sendiri. Seseorang makan dan hidup hasil dari bekerja, dan bahkan pencuri saja harus mencuri jika ingin mendapatkan yang di inginkan, dan jika mereka tertangkap mereka akan di penjara, lalu makna kata bebas akan semakin jauh dari sini. 

Orang-orang selalu mendeklarasikan dirinya sebagai manusia bebas, namun mereka masih terikat dengan hal-hal yang menyimpang dari kata bebas
bebas namun terikat dengan pekerjaan, bebas namun terikat dengan agama,
bebas namun terikat oleh undang-undang negara, bebas namun masih membayar pajak, bebas namun membayar ketika belanja di toko, bebas namun jika mencuri akan di tangkap polisi, dan masih banyak lagi bebas-bebas lainnya, dan mungkin jika bebas itu ada, hanya akan menimbulkan perang, lalu bebas itu seperti apa, bebas menurut saya hanyalah sebatas kata penenang agar bumi dapat tenang
Bebas adalah apa yang kita syukuri sebab kebebasan adalah jalan yang tidak berujung.

Kamis, 25 Juni 2020

Tuhan Dimana?

    
    Tidak ada yang tidak mungkin kecuali menjadi tuhan, mungkin sebagian orang atau seluruhnya membenarkan hal itu, namun segelintir orang berkata lain. Seorang pemuda tengah berjalan menyusuri gang kota, kumuh, dan kotor di temuinya satu keluarga bapak, ibu dan anak kecil, mereka semua kelaparan, pemuda itu lalu bergegas menuju supermarket untuk membeli sembako untuk keluarga itu, beras, mie instan, roti, susu, telur, dan kebutuhan pokok lainnya, serta membeli makanan siap santap sebanyak lima porsi untuk keluarga itu, lalu kembali ke tempat keluarga kecil itu  dengan sekantong makanan di tangan kiri dan kanannya, tampak wajah keluarga itu benar-benar membuat siapapun manusia yang melihatnya merasa iba kecuali iblis mungkin, mereka semua bersujud di hadapan pemuda itu, menangis, bersyukur atas apa yang di berikannya, lalu anak itu bertanya kepada bapak nya,
"bapak apakah dia tuhan?"
"iya nak dia tuhan, tuhan yang nyata" 
pemuda itu membenarkan, tidak adik kecil, juga bapak, saya hanya manusia biasa saya hanya sedang berjalan-jalan saja, dan tidak sengaja melihat kalian semua yang tengah tertidur di tempat ini.
tidak nak kau adalah tuhan yang nyata untuk kami, kami sudah tidak makan sejak tiga hari yang lalu, dan mungkin saja besok kami semua akan mati karena kelaparan, namun engkau datang, kau tuhan untuk kami, kau memberi kehidupan untuk kami semua nak, dengan wajah memelas tampak air mata bercucuran, bapak itu bersujud dan mencium kaki pemuda itu, pun dengan istri dan anak-anaknya, kembali pemuda itu berkata, sambil mengangkat badan bapak itu, sungguh saya bukan tuhan, saya hanya manusia biasa sama seperti kalian, tuhan sebenarnya ada di dalam hati kita, bapak itu memotong, iya dan mungkin juga tuhan itu sekarang menyamar di hadapan kami, pemuda itu lalu berkata, saya bukan tuhan dan tidak pantas di tuhankan, saya hanya ingin berbuat baik supaya tuhan yang sebenarnya melihat saya, dan mungkin suatu hari saya akan bernasib sama seperti bapak, saya hanyalah utusan yang di utus Tuhan untuk bertemu dengan bapak, terimakasih nak, terimakasih, semoga tuhan yang kau maksud senantiasa memberikan kebahagiaan untuk dirimu, pemuda itu mengangguk dan meminta diri untuk pamit, lalu berjalan meninggalkan keluarga itu, semakin jauh ke arah Utara kota, terdengar suara bapak itu dari kejauhan, terimakasih tuhan.
pemuda itu tersenyum, dalam hati berkata sungguh miris negeriku ini bahkan masih ada orang yang tidak tahu makna dari Tuhan itu apa.

tamat.

Jumat, 19 Juni 2020

Mimpi Buruk

       
    
    Malam itu roy baru saja pulang dari tempat nya bekerja, dan tengah menunggu mobil angkutan umum lewat, sama seperti malam-malam biasanya kota yang mulai sayup-sayup dari kebisingan ramai, waktu menunjukkan pukul 11:04 malam di lihatnya arloji yang melingkar di tangannya.

"sudah jam segini biasanya angkotnya sudah lewat tapi ini belum juga muncul"

dilihatnya lagi arloji miliknya yang tampak usam itu, roy adalah seorang buruh pabrik di salah satu perusahaan yang dari dulu memang naik angkot ketika pergi dan pulang dari bekerja. dengan wajah yang mulai kusut serta keringat yang bercucuran di dahinya, roy semakin gelisah menunggu angkot yang juga tidak kunjung datang. tidak lama kemudian tampak dari kejauhan cahaya lampu angkot menyoroti wajah roy, angkot tua dengan warna biru, serta kepulan asap yang tampak ingin melahap cahaya lampu jalan.

"akhirnya datang juga tiket pulang ku"

angkot berhenti tepat di halte pemberhentian dimana roy sedari tadi menunggu, dengan suara mesin yang bergemuruh berisik tidak terarah, roy
melangkah ke arah angkot, menaikkan kaki kanannya dan melihat ke dalam angkot, beberapa penumpang, hanya ada tiga orang, dua orang adalah pria dan satunya lagi adalah seorang wanita, roy melihat satu-persatu wajah dari penumpang itu dua pria itu berdekatan dan wanita duduk di bangku yang lain, roy duduk di sebelah wanita itu, tanpa aba-aba mobil angkot berjalan perlahan meninggalkan halte itu, semakin jauh hingga yang tersisa hanya sedikit cahaya lampu dari halte itu, roy kembali melihat arloji miliknya sekarang pukul 11:20 malam.

"pak jalan semangka nomor 04 yah"
"saya turun di situ saja"

roy memberi tahu sopir angkot itu untuk memberhentikannya di alamat itu, tanpa jawaban apa-apa sopir itu tidak menyahut, roy melihat ke arah kaca spion depan dilihatnya wajah pak sopir pucat seperti mayat, dalam hati roy berkata

"kenapa dari tadi tidak ada yang menyahutku terlebih lagi pak sopir yang biasanya ramah"

dari awal roy naik ke angkot itu semua orang wajahnya datar, seperti sedang marah

"mba' mau kemana?"

wanita itu juga tidak menyahut wajahnya juga pucat sama seperti pak sopir pun dengan dua pria yang ada di depannya itu, kembali roy melihat arloji miliknya kini waktu menunjukkan pukul 11:25 malam, sambil bersandar pada bagian belakang angkot roy akhirnya tertidur lalu akhirnya tersadar dengan suara anjing yang menggonggong, angkot yang mengankutnya itu sudah pergi entah kemana, dengan wajah setengah sadar roy terbangun dan melihat sekelilingnya hanya ada kuburan.

"hah ini aku dimana, kenapa aku berada di sini"

dengan nada lantang roy berteriak sejadi-jadinya angkot yang seharusnya membawanya pulang ke rumah, malah membawanya ke kuburan, tiba-tiba saja wajah roy seketika basah ternyata hanya sedang bermimpi dan yang menyiramnya adalah ibunya sendiri

"ternyata aku sedang bermimpi"

"iya kamu bermimpi dan sangat berisik"

di raihnya arloji miliknya waktu menunjukkan pukul 05:00 subuh, bergegas roy bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi

"sepertinya itu adalah teguran untukku sebab akhir-akhir ini aku sudah jarang sholat lagi"

di raihnya gayung yang ada pada ember itu lalu berwudhu dan bersiap untuk sholat subuh

"tumben kamu sholat biasanya molor"

"iya bu' tadi kebangun, sekalian sholat saja"

dari kejadian itu roy mulai rajin sholat lagi, mimpi itu telah membuatnya takut dan tersadar.

TAMAT.

Selasa, 24 Maret 2020

Kembali Kering






"kembali kering"

Air menetes ujung benang 
basahi lantai kian menggenang 
tampak roman kembali mengenang

belum lagi kering 
sisa perjalanan semalam
mencuci noda enggan hilang 
memberi wangi hilang bau

menjemur harap kering sitak
mengisi kosong hingga penuh 
mulai langkah bukan keluh

tiba tampuk kubur nelangsa 
kembali pulang temui cerah

Bulukumba, 24-03-2020




Jumat, 27 September 2019

Untuk Indonesia



Untuk negeriku tercinta!




Ada yang bilang Indonesia itu adalah bangsa yang lemah, bukan! bukan bangsanya tapi pemimpin nya. Mereka yang memiliki kekuasaan untuk mengontrol negeri ini malah menjadikan kekuasaan sebagai alat penghasil uang, mereka menggali perut bumi, membakar hutan, mencemari lingkungan, mendirikan gedung-gedung pencakar langit, mendirikan pabrik-pabrik industri, layaknya mereka akan hidup dari semua itu, dan tanpa mereka sadari mereka telah merugikan banyak mahluk hidup, tanpa mereka sadari mereka telah melanggar undang-undang negara ini, tanpa mereka sadari mereka telah membunuh manusia yang telah memberi nya kekuasaan, tanpa mereka sadari, katanya!
    Mereka yang tampak gagah di poster-poster, menebar janji melalui kata-kata, ada yang bertuliskan, mari bangkit bersama saya, yang faktanya mereka-lah yang membuatnya terpuruk, ada juga yang bertuliskan, suara anda menentukan masa depan negeri ini, namun faktanya satu suara itu menjadi awal kehancuran, malah para pemimpin semakin semena-mena terhadap rakyat
negara ini semakin kesini semakin berevolusi menjadi negara demokrasi yang penuh drama, tidak ada yang betul-betul menepati janji yang telah mereka cipta
   Untuk negeriku tercinta dimana kini kami mengadu, pemimpin yang seharusnya tempat kami mengadu malah menjadi tempat yang paling menakutkan untuk kami berkeluh-kesah, negeri ini butuh sosok yang betul-betul mampu mendengarkan curahan hati kami,
Dan sekarang ibu Pertiwi kembali berduka atas meninggalnya kejujuran dan keadilan, mereka kembali membuat skenario untuk drama yang akan di tampilkan di depan para penonton yang yang matanya telah di tutup oleh kain, telinganya telah di tutup oleh kapas, mereka hanya duduk dan tidak menyaksikan drama yang tengah berlangsung.
    Di saat para  pahlawan bangsa tengah mengetahui ada yang ganjil, mereka bergerak atas nama rakyat, mereka membuka kain yang menutupi mata, mereka membuka kapas yang menutupi telinga, dan kami melihat drama yang di tampilkan tidak sesuai dengan skenario yang mereka buat.
Indonesia sedang tidak baik-baik saja, untuk negeriku tercinta Indonesia, kami sedang berusaha!

Sabtu, 07 September 2019

Menuju Borneo


        "Lima menit setelah kapal berlabuh"


Hari itu adalah hari keberangkatanku dari Celebes "Sulawesi" menuju Borneo "Kalimantan" semua barang kumasukkan kedalam daypack milikku, selepas magrib mobil pun tiba untuk menjemput, di antara gelapnya malam kala itu ada tangis yang bersembunyi pura-pura tegar dengan keberangkatan, nenek mencium pipi kiri dan kanan ku, aku mendengar isak tangis di antaranya, adik perempuanku menjamah tanganku dan menciumnya pun dengan adik laki-lakiku, selanjutnya aku memeluk ibuku tak jauh beda dengan nenek, ibuku juga bersuara tangis sesak dan pura-pura tegar, malam itu rasanya aku dan keluarga akan berpisah selamanya walaupun aku tahu bahwa jika umur panjang kita akan kembali bersua, bulan terimakasi malam itu aku terlihat kuat walau sebenarnya ada tangis yang terbelenggu, aku naik ke mobil hanya ada aku dan pak sopir, aku menoleh ke arah keluargaku aku menandai satu persatu wajah mereka, selamat tinggal pun tiba mobil berjalan membelah lorong ke arah jalan poros dan melaju di jalan raya, sampai jumpa lagi desaku.

   Mobil melaju ke arah yang lain, menjemput penumpang yang sudah menunggu di rumah masing-masing, satu persatu penumpang di jemput, tak jauh beda denganku, disana juga ada rasa haru akan kepergian keluarga yang mereka sayangi namun apa boleh buat di setiap pertemuan pasti selalu ada perpisahan, setelah semua penumpang di jemput, aku pun tertidur lelap pada pukul lima subuh aku tiba di kota Pare-Pare, matahari pagi telah sedari tadi menunggu kedatanganku, ada banyak bukit namun tidak terlalu tinggi.

   Pagi pun telah utuh, matahari kian meninggi di angkasa, aku melihat aktivitas manusia disana, ada ibu-ibu yang mengantarkan anaknya ke sekolah, ada pak polisi yang sedang berjaga, juga ada kakek-kakek yang sedang membaca koran dan minum kopi di teras rumahnya, pagi hari yah dimana semua aktivitas di mulai. Aku pun tiba di rumah pak sopir, selanjutnya aku bersiap mandi lalu makan, dan tidur sejenak dan sebangun aku dari tidur, sore pun tiba, aku dan penumpang lainnya di antar ke pelabuhan untuk selanjutnya menyebrang ku pulau Borneo atau Kalimantan, tiket sudah aku kantongi dengan mengucap "Bismillahi Rahmani Rahim" aku melangkahkan kaki ke atas kapal yang akan membawaku ke Borneo, setelah semua penumpang naik dan mendapatkan tempat tidurnya masing-masing, kapal pun berangkat dan tampak anak kecil di suruh oleh ABK kapal untuk melepas tali pengait kapal, jangkar di angkat, perlahan kapal berlayar sedikit demi sedikit pulau Sulawesi semakin buram dan akhirnya menghilang dari pandangan, yang ada hanya lautan lepas serta senja yang mengiringi keberangkatan kami semua, sungguh indah sore itu, angin membelai rambutku, perasaan yang sangat damai, kapal semakin melaju membelah ombak yang tampak ganas, matahari tenggelam aku pun masuk ke dalam kamar untuk makan malam lalu tidur, satu hari dua malam aku berlayar di tengah lautan, akhirnya aku pun tiba di pelabuhan Nunukan, buru bantu mulai berisik menawarkan tenaga mereka untuk mengangkut barang bawaan penumpang beruntungnya aku hanya membawa daypak, aku pun melangkah keluar dan menginjakkan kaki di pulau ini, pulau Kalimantan aku tiba, selang beberapa saat menunggu di pelabuhan akhirnya sanak keluarga datang menjemput dengan menggunakan mobil angkutan umum yang mereka sewa, mobil menggerus jalan raya yang sedikit berlubang setelah cukup lama berkendara di jalan aku pun akhirnya tiba di tempat bapak tinggal.

Tamat.

Rabu, 31 Juli 2019

Cerita Di Masa Kecil



CERITA DI MASA KECIL

Masa kanak-kanak ibarat bongkahan emas yang sangat berharga. Namun, setiap manusia harus menukar bongkahan emas itu dengan perjalanan menuju masa depan. Masa kecil tidak akan selamanya tinggal bersama kita. Lambat laun, kita tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berbeda, bahkan terkadang asing bagi diri sendiri.

Masa kanak-kanak adalah masa yang paling indah. Saat itu, kita belum mengenal kerasnya kehidupan. Pikiran kita hanya dipenuhi keinginan untuk bermain. Tidak ada cinta, tidak ada pacaran, tidak ada Facebook ataupun Instagram. Yang ada hanyalah belajar dan bermain. Begitulah polosnya dunia anak-anak.

Begitu pula dengan seorang bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Namanya Bopeng.


Pagi buta, emak membangunkanku untuk mandi dan bersiap berangkat ke sekolah. Setelah mandi, emak memakaikanku seragam yang rapi. Bajuku dimasukkan ke dalam celana, rambutku diolesi minyak kemiri lalu disisir ke samping hingga mengilap. Setelah itu, wajahku dipoles bedak bayi. Emak kemudian mengajakku berdiri di depan cermin.

"Anakku memang gagah."

Aku hanya tersenyum bangga mendengar pujian itu.

Sebelum berangkat, emak menyuapiku sepiring nasi goreng buatannya. Bagiku, nasi goreng buatan emak adalah yang paling enak di seluruh lorong tempat tinggalku.

Dengan perut kenyang dan pakaian rapi, aku diantar bapa' ke sekolah menggunakan motor Supra tua kesayangannya. Motor itu melaju pelan membelah udara pagi yang masih dingin. Di sepanjang perjalanan, pegunungan hijau selalu menemani pandanganku. Saat itu aku belum tahu bahwa pemandangan sederhana seperti itu kelak akan menjadi kenangan yang sangat mahal.

Sesampainya di gerbang sekolah, aku turun dari motor. Sebelum pergi, bapa' menyelipkan uang saku seribu rupiah ke dalam kantong bajuku. Jumlah yang terasa begitu besar bagi anak kecil sepertiku.

Aku berjalan menuju kelas satu. Dua orang temanku sudah datang lebih dulu.

Seperti biasa, pembicaraan kami tak jauh dari bermain. Namun pagi itu ada satu masalah yang membuat kami gelisah: PR Matematika belum kami kerjakan. Bukan karena malas, tetapi karena kami memang tidak mengerti cara menghitungnya. Teman yang biasanya membantu kami juga belum datang.

Karena guru belum masuk, kami pergi ke kantin belakang sekolah membeli jajanan. Tak lama kemudian, lonceng berbunyi. Kami berlari sekencang mungkin menuju kelas.

Semua murid sudah duduk rapi.

Guru masuk, ketua kelas memberi aba-aba hormat, lalu kami mengucapkan salam bersama-sama.

Tak lama kemudian, guru meminta semua PR dikumpulkan.

Selanjutnya kalian pasti sudah bisa menebaknya.

Aku dan dua temanku berdiri di depan kelas sebagai hukuman. Dengan satu kaki terangkat dan kedua tangan menyilang memegang telinga, kami hanya bisa menahan malu hingga jam istirahat berbunyi.

Setelah hukuman selesai, aku menggunakan sisa uang sakuku yang tinggal lima ratus rupiah untuk membeli minuman. Sisa waktu istirahat kuhabiskan bermain kelereng bersama teman-teman.

Jam pelajaran terakhir adalah pelajaran yang paling kusukai: menggambar.

Aku menggambar dua gunung dengan jalan membelah di tengahnya, persis seperti pemandangan di desaku.

Ketika lonceng pulang berbunyi, rasa kantuk dan lelah yang sejak pagi kurasakan seketika menghilang. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi anak SD selain mendengar suara lonceng pulang sekolah.


Aku dan teman-teman berjalan kaki pulang di bawah terik matahari. Sepatu kami jinjing agar tidak cepat rusak, sementara telapak kaki menahan panasnya jalan aspal.

Di tengah perjalanan, kami sering tergoda melihat buah-buahan milik orang. Diam-diam kami memetik beberapa buah. Begitu pemiliknya keluar, kami langsung berlari tunggang-langgang. Siapa pun yang terlambat berlari pasti akan tertangkap.

Sesampainya di rumah, aku melepas seragam, makan siang, lalu bersiap pergi mengaji.

Sebelum mengaji, aku mengisi sebuah jerigen dengan air lalu membawanya ke rumah guru mengajiku. Begitulah caraku membantu beliau sebagai ungkapan terima kasih atas ilmu yang diberikan.

Setelah mengaji selesai, petualangan kami yang sesungguhnya baru dimulai.

Aku dan teman-teman pergi berenang di sungai. Setelah puas bermain air, kami mencabut ubi milik orang untuk dibakar bersama.

Kenakalan kami memang luar biasa, tetapi begitulah dunia anak-anak.

Ketika matahari mulai condong ke barat, kami tahu saatnya pulang. Mata kami merah karena terlalu lama berenang.

"Merah tidak mataku?"

Pertanyaan itu selalu kami lontarkan satu sama lain sebelum pulang ke rumah.

Dari kejauhan terdengar suara emak memanggil.

"Bopeng... pulang!"

Aku pun berlari sekencang mungkin.

Namun usahaku sia-sia.

Sesampainya di rumah, bapa' sudah mengetahui bahwa aku baru saja berenang di sungai. Aku dimarahi bahkan dipukul, sementara emak terus mengomel. Aku hanya bisa menangis.

Malam harinya aku belajar di ruang tamu menggunakan buku pinjaman dari perpustakaan sekolah. Tanpa sadar aku tertidur.

Dalam keadaan setengah sadar, kurasakan seseorang mengangkat tubuhku.

Itu bapa'.

Beliau menggendongku menuju tempat tidur, menyelimutiku, lalu mematikan lampu.


Kini aku telah dewasa.

Sering kali aku membantah bapa' dan membuat emak bersedih. Baru sekarang aku menyadari bahwa di balik setiap omelan emak dan setiap kemarahan bapa', tersimpan kasih sayang yang begitu besar.

Yang paling kuingat bukan pukulan bapa' ketika aku pulang dari sungai, melainkan pelukannya saat menggendongku ke tempat tidur.

Mungkin begitulah cara orang tua mencintai anaknya.

Dan kini, yang tersisa hanyalah kenangan tentang masa kecil yang tak akan pernah bisa kujalani untuk kedua kalinya.

— TAMAT —

Minggu, 27 Januari 2019

Kopi Itu

"KOPI"







K-enikmatan
O-ral
P-emersatu
I-nsan

    Kopi berasal dari bahasa Yunani kuno KO yang berarti (bubuk) dan Pi yang berarti (hitam)
jadi kopi adalah (bubuk hitam), hahahahahah bukan seperti itu wahai para SPY
saya sendiri mengarang-ngarang bahasa Yunani kuno barusan agar tidak terlalu tegang membaca tulisan ini, sebab  kopi tidak memberi ketegangan bagi yang meminumnya melainkan memberi ketenangan.

    Yah begitulah saya mendefinisikan secangkir kopi, (kenikmatan) yang selalu ada untuk kita rasakan, (oral) melalui mulut lalu berpencar ke otak dan hati, (pemersatu) semua kalangan baik tua maupun muda, (insan) menjadi bagian dari kopi itu sendiri dan berteman dengannya.
    Saya bangga hidup di negara Indonesia, dimana tanaman kopi melimpah ruah walau awal mula kedatangan kopi di Indonesia jika ingin di bahas begitu sangat menyedihkan, petani kopi kerja rodi (kerja paksa) oleh belanda, bekerja tanpa imbalan apa-apa dan sekarang kita hanya tinggal duduk manis di jendela kamar lalu menikmati secangkir kopi, kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada pendahulu kita karena tanpa mereka kita tidak mungkin bisa meminum kopi senikmat ini hari ini.
    Kopi juga salah satu bagian dari ke-seksian Indonesia, memikat bangsa-bangsa lain untuk masuk dan mengambil alih kekuasaan.
kopi di dunia merupakan minuman kedua yang paling sering di minum oleh manusia setelah air putih
    Di dalam secangkir kopi sendiri terdapat banyak manfaat bagi tubuh, terutama orang yang memiliki berat badan yang bisa di bilang gendut, sangat cocok untuk meminum kopi, karena meminum kopi dapat menurunkan berat badan seseorang, dan mungkin setelah anda(wanita) membaca ini, akan langsung meminum dan mencintai kopi, manfaat lain yang di timbulkan kopi adalah dapat memicu tekanan darah, sangat cocok untuk orang yang kurang darah, namun maaf bagi yang darah tinggi sebaiknya mengontrol diri anda agar tidak mengikuti nafsu anda untuk meminum kopi, karena jika tidak mungkin, melihat secangkir kopi pun tidak akan lagi, sebab anda sudah di alam lain. Dan lagi kopi juga membantu kerja otak untuk berfikir lebih intensif dan lebih sadar lagi, saya sendiri merasakan hal itu, setelah saya meminum secangkir kopi saya merasa lebih tenang untuk memirkan hal-hal yang awalnya otak saya tidak mampu untuk mencapainya.
     Pertama kali saya mengenal kopi adalah saat saya berumur kurang lebih 8-9 tahun, dimana saya di ajak nenek untuk pergi memanen kopi di kebun
saya jarang membeli kopi karena lebih menyukai kopi olahan nenek sendiri, rasanya juga lebih alami dan aromanya lebih nikmat, pertama saya merasakan kopi biasa-biasa saja, yang terlintas di otak saya saat itu, adalah "ini minuman apa, setiap hari nenek saya membuatnya dengan secangkir full, rasanya juga pahit, saya membenci kopi saat itu, dan seiring, sejalannya waktu, saya tumbuh menjadi anak remaja, mulai berfikir dan menanggapi kopi, meminum secara wajar hingga akhirnya jatuh cinta setelah menghina, saya akui mungkin saya munafik pada waktu kecil sebab menolak kopi yang di dalamnya tersimpan sejuta rasa yang saya tidak temui di minuman lain.
    Kopi juga sudah menjadi sahabat saya, ketika saya memiliki masalah baik itu ringan maupun berat, saya selalu membuat secangkir kopi, dan ketika saya mulai menghirup dan menyeruput kopi, saya merasakan ketenangan, saya kembali menemukan definisi lain tentang kopi yaitu, "sahabat bisu yang selalu mengerti masalah yang kita hadapi".
Kopi juga sudah tidak bisa hilang dari perjalanan saya, setiap saya pergi berpetualang kopi olahan nenek, selalu saya bawa karena saya tidak pernah tahu kapan saya ingin minum kopi lagi dan lagi
dan jika ada pertanyaan " kenapa anda suka meminum kopi" mungkin saya akan menjawab dengan seperti ini "jawabannya ada pada secangkir kopi"
bahagialah sebab kebahagiaan tidak selalu harus mahal dan mewah, kebahagiaan selalu ada untuk kita, selama kita kreatif untuk menciptakannya. Mari ngopi

           - TAMAT-

Jumat, 16 November 2018

Pak Rujali Dan Bajaj Tua



Pak rujali dan bajaj tua.

    Panggil saja dia pak rujali ahmad
tapi lebih akrab di sapa rujali sebuah nama yang begitu antik sama seperti bajaj tua miliknya, pak rujali sehari-hari bekerja sebagai supir bajaj atau motor roda tiga yang lebih mirip mobil mini yang suaranya jika melintas sama berisiknya dengan bencong yang memukul kaleng sambil bernyanyi, pak rujali tinggal di sebuah kota besar yang peradaban manusianya sudah melebihi batas, yang sama halnya seperti ember yang di isi air terus menerus sampai airnya tumpah-tumpah, pak rujali yang aslinya berasal dari kampung memilih menyambung hidup di kota sebagai supir bajai
    Awalnya pak rujali tidak pernah mengendarai bajaj namun setelah salah satu teman akrab pak rujali mengajari pak rujali mengendarai bajaj sebulan kemudian pak rujali pun mahir mengendarainya, dengan sisa uang yang di punya pak rujali saat itu.
    Pak rujali memulai langkahnya dengan membeli sebuah bajaj bekas milik teman dari temannya pak rujali dengan seharga 2 juta, hari itu pak rujali pun mulai bekerja sebagai supir bajaj di kota, dan salah satu hal yang memaksa pak rujali harus bekerja keras tidak lain adalah anak dan istrinya, istri pak rujali bernama bu mina yang ia kenal pada waktu muda dulu,
pak rujali pada saat itu bertemu di perantauan dan akhirnya menjalin hubungan hingga akhirnya pak rujali menikahi bu mina dan mempunyai seorang anak wanita bernama lia, kehidupan pak rujali di kota bisa di katakan berkecukupan, sebab pak rujali hanyalah seorang supir bajaj yang penghasilannya tidak seberapa tapi masih bisa menutupi untuk makan, di tambah anak pak rujali lia yang masih duduk di bangku sd kelas 4, sungguh sebuah tantangan tersendiri untuk pak rujali, setiap harinya sebelum pak rujali berangkat bekerja, jam 4 subuh pak rujali sudah bangun untuk terjaga sampai pukul 05:00 untuk menunaikan sholat subuh, dan setelah fajar terbit barulah pak rujali bersiap-siap berangkat bekerja, setiap harinya seperti itu, tidak ada kata bosan di dalam benak pak rujali karena pak rujali memang orang yang betul-betul bertanggung jawab terhadap keluarganya, terlebih lagi lia penyemangat pak rujali untuk terus bekerja, hari itu pak rujali pulang kerumah untuk makan siang dan bu mina istri pak rujali tau kalau suaminya tersebut akan pulang dibuatkannya telur ceplok dan sepiring nasi hangat untuk suaminya itu.
    "Assalamualaikum bapa' udah pulang" kata pak rujali yang baru pulang
bu mina menjawab "wa alaikum salam, eh bapa' sudah pulang" pak rujali pun berkata "ia bu' bapa' lapar mau makan siang dulu" dengan tidak basa basi lagi bu mina pun memanggil suaminya tersebut masuk ke area dapur lalu membuka tutup makanan, "wah ibu sudah masak yah" bu mina menjawab "ia pak tapi telur ceplok doang" dengan nada lembut pak rujali berkata "tidak apa-apa bu' yang penting bapa' kenyang" di makanlah nasi dan telur ceplok itu oleh pak rujali, dengan ibu mina yang sedikit mengintip di sela-sela tembok ia melihat suaminya dengan lahap memakan makanan itu.
   Hari ke dua pun seperti itu, telur ceplok dan nasi hangat, dengan bu mina mengintip lagi suaminya itu, bu mina pun melihat suaminya tersedak sambil memain-mainkan nasi di piringnya, bu mina tau betul suaminya itu bosan setiap harinya harus makan telur ceplok dan nasi, akhirnya bu mina pun bertekad bahwa ia harus memasak yang enak-enak untuk suami kesayangannya itu, dan sebenarnya bu mina memang hanya pintar memasak nasi dan telur ceplok
bu mina dengan tekad membara berkelana ke tetangganya dan berinisiatif untuk belajar memasak, 4 hari berlalu dengan ilmu memasak bu mina yang di dapat dari tetangganya akhirnya bu mina memasakkan suaminya itu berbagai macam hidangan, bu mina kembali mengintip di sela-sela tembok ia melihat senyum di bibir suaminya itu, akhirnya bu mina pun pandai memasak sampai sekarang ini, tanpa harus melihat suaminya tersiksa lagi dengan memakan telur ceplok lagi, mereka pun hidup bahagia di rumah kecil miliknya.

                 - TAMAT-